在母親節,我香甜地睡了一場好覺。
那個美好的週日,我打了電話給我的母親和奶奶們,也終於透過螢幕,和這幾個禮拜一直期盼著的印尼媽媽Duwi重逢了。
現在回想起3週前決定行動的那一刻,還是覺得萬分不可思議。那幾天中我很焦慮,看著疫情擴散的新聞擔憂無比,卻仍在猶豫是否該真正踏出這一步。我不知道自己張貼的尋人啟事會不會有人看見?我的文字是不是能夠好好地被翻譯成印尼文?資訊是否有機會被分享出去?行動後是否能兼顧即將來臨的大考?可是疫情會等我嗎?
於是我想了想自己猶豫時,總會反問自己的一個問題:「我不做,會不會後悔?」
「如果我不去找Duwi,這一生會不會留下遺憾?」
「會!」內心立刻響出來的聲音鏗鏘有力。
我不想要自己未曾努力就讓一切成為來不及,於是我行動了。
一個普通高中生的尋人願望,要怎麼讓人聽見?
在忙碌的高三生活中,我利用每天的通勤時間,一點點,一點點,把尋人啟事的文章寫了下來,忐忑地發在了個人臉書上,像是要動用我這19年以來所有的人際資源,拜託大家幫我把資訊分享出去。
後來,透過友人的幫忙順利媒合翻譯,我再一次發出了印尼文版本的尋人啟事。但一天天確認,文章的分享數以龜速成長,最後乾脆停滯不動,在每天數以萬計的貼文中石沈大海。我想這樣不是辦法,該尋找別的突破口了!
於是我想起地理課時,老師曾經對我們提到一間專門辦給東南亞移工的主題書店「燦爛時光」,創辦人之一正好是我上學期因緣際會參與校內講座相識的雲章,便鼓起勇氣私訊她,詢問是否有機會可以在書店裡張貼尋人啟事?或者是在週末台北車站大廳的移動書店中宣傳,好讓更多移工圈子的朋友分享出去?
雲章收到訊息後,很快回覆了我,問了來龍去脈,便開始幫助我擴散資訊。另外,身為獨立評論總監的雲章也詢問我,是不是能夠將尋人啟事的公告發展為一篇文章,投稿給獨立評論?刊出的話,曝光度會更加顯著。當天回家我便提起筆桿,再一次試著讓自己回到15年前,流著淚寫完了文章〈尋找我的印尼媽媽:Duwi,你在哪裡?〉
稿件順利發出後,我持續著每天規律的考生作息,但每天睡前依舊會確認一下文章底下是否有Duwi的消息。看見有好多人因為我們的故事被感動,主動幫忙分享到各個印尼相關社團、自己的個人頁面上,我總是感到特別特別感恩。睡前我會向天父禱告,安定自己的心,讓自己在外界一切喧囂中保持平靜,只要相信,慢慢等待,奇蹟有天可能就會發生。
跨出台灣,我的故事前進印尼
透過網路媒體,文章散播的速度比我想像的快了好多好多。文章刊出一週後,我透過中央社熱心的記者大哥,聯繫到他們在印尼的派駐記者,又透過他們的幫助,與印尼當地的傳媒連上了線。他們說很願意幫助我尋找Duwi,希望能夠助我一臂之力。
我感動得無以言喻。印尼記者用英文向我簡單做了文字採訪,卻可能因為非母語的用字不是那麼精準,再製的過程當中有些語意理解的錯誤。因此,文章一開始刊出後並不是那麼受注意,甚至還有人在下面留言「兄弟,我不知道,我覺得這是假的!(GOOGLE翻譯年糕)」
當時我無比崩潰:「天啊,我會不會因此再也找不到Duwi了?」這幾週做了這麼多努力,接受好多人的善意,是不是要因為表達不清而功虧一簣?我和Duwi的距離好像這麼近,卻又那麼遠。
那是母親節的前一天,我在當晚聯繫上記者,請他調整報導缺少的部分資訊,將照片和引文刊上後,神奇的事發生了──印尼各地的當地網媒開始注意到這件事。開始有人幫我再製新聞轉傳,在印尼的社群裡引起了很多人的注意。他們也開始幫助我把這個消息貼到各個地方,希望Duwi能夠看見我正在尋找她。
就在母親節當天,有人幫我找到Duwi
5月10日是母親節。當天一早,我出門去補習,在中堂下課的時候,看見手機收件匣裡有幾則陌生訊息。點開來看,是印尼記者聯絡我,說在報導底下似乎有Duwi的親戚留言,表示Duwi也在找我,讓我看看照片確認是不是她。傳來的照片很模糊,我當下無法明確指認,可是內心已經澎湃沸騰。忍耐著把課上完,再次打開收件匣時,多了一則中文訊息:「妹妹妳好,妳在找這個阿姨嗎?」
傳訊息來的人,是一位台灣的印尼新住民王小姐。她曾經在台灣的仲介公司工作,就這麼剛好,是Duwi鄰居的姊姊。她在網路上看到朋友分享報導我故事的印尼新聞,曾面對許多移工離別的她很能夠同理我的心情,然而卻不知道怎麼聯絡我。她和朋友搜尋印尼新聞的源頭,最後來到獨立評論網站留言,才聯繫上雲章。雲章確認她的身分與消息後,又給了她我的聯絡方式,於是我們終於接上最後一哩。
在手機裡,王小姐傳給了我兩張照片,一張過於模糊,但另外一張的場景,很明顯是在我的舊家,我的母親、外婆與Duwi攬著我,我手上還拿著那隻紅衣泰迪熊。
見到照片當下我的眼淚就掉出來了,是Duwi,真的是Duwi!
天啊,我在心中不住禱告,用自己能力所及最快的速度衝出補習班,直奔捷運站,得到Duwi的資訊後,馬上下載通訊軟體,試著聯絡她。
「Duwi! Do you remember me? This is Tiffany……」
彼端很快回了訊:「Hallo....meimei....ma....」
我在捷運上泣不成聲(抱歉了當天的民眾,我很健康,希望沒有造成你們的恐慌),傳了一張小時候我與兩個哥哥的合照給她,她一一叫出了我們的名字,還記得我們所有人,我真的找到了她。
兩隻泰迪熊,終於在視訊中相遇
一抵達家裡,我哭著和哥哥說找到Duwi了,結果含著滷蛋他半句也沒聽懂,只好讓我緩和一陣,搞懂狀況後告訴我冷靜,否則我講什麼Duwi也沒法明白。
我一邊哭著架好視訊,進房拿著Duwi給我的那隻泰迪熊,按下了視訊通話的撥號鍵,等待她接起的那一刻……
「啊~妹妹你胖胖,我想你。」電話的另一頭一接起,Duwi滿面笑容說著,一邊不住向鏡頭用手和我傳送飛吻。
「Oh my god…..」我已經哭成一團,不敢相信自己眼前所見,Duwi真的在我的眼前,正在和我說話!
我們哭著分享彼此的近況,問候彼此是否安好,這幾年來家人都去了哪裡,疫情在當地是不是有被控制住?
「妹妹,我也有一隻熊喔。」Duwi告訴我,我當時可能因為年幼,記憶不大牢靠,忘了這件事。
「妳也有給我一隻熊啊,妳說怕我會想妳。」她說著說著,也哭了。
記憶隨著Duwi的話語再一次慢慢被喚起,啊,是的,我怕她想我,我怕我們再也見不到面,所以我也給了她一隻熊,讓她一想到我,就能抱著那一隻泰迪熊,就如我想她的時候,可以抱著這隻泰迪熊一般。
我們講了幾個小時的視訊電話,在掛斷之前,我說:「Duwi,我們一起拿著熊熊拍一張照!」她說好,於是在15年後我終於有了與她的第二張合照,但她卻是有不少我的照片,回印尼之後都好好地收在一本相簿裡。我們約定好,疫情過後,我和家人要到梭羅(Solo)去拜訪她和她的家人,再一起去吃很多好吃的南洋料理,一起去認識她的家鄉,一起玩耍,就像我小時候她帶我去各地跑跳一樣。
請抓住機會,好好對身邊的人說「我愛你」
回想起這整件事的過程,我想了想,只能說是奇蹟。畢竟誰能料想在時隔多年的今日,我們還能透過思念越過南海再次相遇?這中間有太多太多變數,彼此是否安然無恙、Duwi家鄉是不是有足夠好的網路能夠看見文章、印尼總人口數有2.677億這麼多……等等。
我想要由衷地感謝整個尋人過程中,曾經幫助我們的每一個人,我的家人、朋友們、大眾一篇篇的分享、留言區的鼓勵,以及在過程中熱心幫助我們的媒體朋友。如果沒有你們的幫助,讓我跨出尋找的第一步,讓訊息一棒接著一棒地跨越邊境,這樣的奇蹟不會發生,我和Duwi也不能重逢,真的真的由衷感謝你們。
最後,我想要用自己當時尋人貼文時的結尾,為這一個奇蹟做一個小結:
未曾踏出腳步,我們都不知道其實天馬行空卻也能在地上行走,15年了,原如大海撈針卻能透過奇蹟得人如得魚,她如此真切地在我眼前,而我們依然那樣珍惜彼此的存在,還能夠一起寫下屬於我們的故事。
也請記得,也一定要在一切還來得及的時候,好好抓住每一次機會,對自己珍視的人說:「我愛你。」
那麼再次,謝謝一切緣分,謝謝過程中伸出援手的每一個人,願你們安好,也願我們再也不錯過那些重要的人。
For everyone who asks receives; the one who seeks finds; and to the one who knocks, the door will be opened.──Matthew 7:8
(作者為北一女學生。本文為雙語呈現,以下為印尼文,由Agnes Florencia翻譯)
Mencari Teman yang Hilang – Syukur dan Berkat yang Tak Terhingga
Selamat pagi, kemarin di malam Hari ibu, saya bermimpi indah.
Minggu yang sangat indah ini, saya menelepon ibu dan nenekku, dan akhirnya, melalui layar komunikasi, saya dapat bertemu kembali dengan ibu Indonesiaku, Duwi, orang yang telah aku nantikan selama berminggu-minggu, melalui aplikasi online.
Melihat kembali tiga minggu yang lalu, saat aku memutuskan untuk membuat ideku menjadi kenyataan, aku masih merasa luar biasa. Selama masa-masa itu, aku sangatlah gelisah.
Saya khawatir dengan berita tentang penyebaran COVID-19, saya masi ragu untuk mengambil langkah ini. Tidak ada jaminan untuk postingan saya akan dilihat, teks saya diterjemahkan ke Bahasa Indoensia dengan tepat, adakah kesempatan untuk postingan saya untuk disebarluaskan, dan bisakah saya menangani ujian besar saya bersamaan dengan ini? Di dalam lubuk hati saya tersimpan ketakutan, yang bertanya akankah wabah ini menunggu saya?
Maka dari itu, saya mempertimbangkan beberapa pertanyaan, yang selalu saya tanyakan pada diri sendiri ketika ragu,
"akankah ada penyesalan jika saya berhenti?"
"Jika aku berhenti mencari Duwi, akankah aku akan menyimpan penyesalan seumur hidupku?"
"Pastinya!" suara di benak saya merespons dengan spontan.
Maka dari itu, saya bertindak, saya tidak ingin membuat semuanya terlambat tanpa usaha saya. Saya memulai dengan menulis artikel, Teman Teddy Beruang yang Hilang, saya menulisnya berhari-hari perlahan-lahan tiap harinya hingga selesai. Dengan gelisah, saya memposting artikel tersebut di media sosial, meminta teman-teman saya untuk menyebarkan artikel tersebut, seolah-olah menggunakan koneksi yang telah saya jalin selama 19 tahun.
Beberapa waktu kemudian, dengan bantuan dari teman saya, artikel ini dapat diterjemahkan ke bahasa indonesia dan diterbitkan. Saya menghitung jumlah artikel saya yang dibagikan hari demi hari, dan menemukan angkanya bertambah dengan lambat. Akhirnya, angka tersebut berhenti di puluhan, ratusan, dan menghilang dari ribuan postingan di internet.
“Ini tidak akan berhasil,” saya pikir “waktunya untuk mencari terobosan baru.”
Jadi saya teringat sesuatu yang disebutkan oleh guru geografi saya, Toko Buku The Brilliant Time, toko buku yang dirancang khusus untuk pekerja migran dari Asia Tenggara. Secara kebetulan, saya bertemu dengan salah satu pendiri Yun-Chan dalam kuliah intra-sekolah semester lalu. Saya mengumpulkan keberanian untuk mengirim pesan kepadanya, menanyakan apakah mungkin bagi saya untuk mempromosikan posting artikel di toko buku baik dalam saluran fisik atau melalui media sosial sehingga cerita tersebut dapat menyebar di antara dan melalui komunitas orang Indonesia yang bekerja di Taiwan.
Memiliki seluk beluk, Yun-Chan dengan cepat menanggapi saya dan membantu mempromosikan artikel tersebut. Selain itu, dia juga bertanya kepada saya apakah dia dapat mengembangkan pengumuman pemberitahuan penelusuran ke dalam pengiriman artikel, untuk meningkatkan publisitas. Karena itu, saya mengambil pena saya malam itu, mencoba menjadi diri saya 15 tahun yang lalu, dan akhirnya selesai dengan menangis.
Naskahnya dikirim tanpa hambatan, saya kembali ke rutinitas untuk mempersiapkan ujian besar saya. Tidak ada yang berbeda, tetapi saya mulai memeriksa posting saya setiap hari sebelum tidur. Memperhatikan berapa banyak orang yang tersentuh oleh cerita kami bahkan secara proaktif berbagi dengan asosiasi Indonesia dan akun pribadi mereka, saya selalu sangat bersyukur dihari-hari tersebut.
Saya selalu berdoa kepada Bapak di surga untuk menenagkan hati saya, dan menjaga diri saya tetap tenang tengah kekisruhan ini. Berdiri teguh dalam iman, saya menunggu dengan sabar, mengharapkan mujizat untuk datang suatu hari nanti.
Melalui saluran online, penyebaran artikel tersebut jauh lebih cepat dari yang saya bayangkan. Satu minggu setelah artikel tersebut diterbitkan, melalui wartawan di CAN, saya menghubungi wartawan di Indonesia dan media berita lokal di sana. Mereka mendengar cerita saya dan bersedia untuk membantu saya mencari Duwi.
Saya sangatlah tersentuh sehingga saya tidak hampir tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa ragu, saya menghubungi jurnalis tersebut dan melakukan wawancara teks dalam bahasa Inggris. Namun, karena keterbatasan bahasa, beberapa kata hilang dalam terjemahan, menyebabkan kesalahpahaman semantik dalam pasca-pengeditan.
Akibatnya, artikel itu tidak begitu diperhatikan oleh publik, ketika pertama kali diterbitkan. Beberapa orang bahkan berkomentar di bawah berita, "Saudaraku, aku tidak tahu, aku pikir ini palsu. (Google Translate)."
Pada saat itu, saya berpikir dalam hati, "Ya Tuhan, apankah saya tidak akan kehilangan Duwi selamanya?" Itu sangatlah membuat saya frustrasi dan hampir membuat saya mental breakdown, memikirkan semua kebaikan yang saya telah raih delama berminggu-minggu. “Apakah ini semua berakhir sia-sia?” Jarak diantara Duwi dan aku jauh namun terlihat dekat.
Malam itu (9 Mei 2020), saya menghubungin reporter itu lagi untuk memperbaiki beberapa bagian yang hilang bersama foto dan kutipan. Kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi; media berita online lokal di Indonesia mulai memperhatikan artikel ini dan membuat artikel saya sebagai satu berita. Dan juga, masyarakat setempat juga menjadi tertarik dengan artikel ini, orang-orang mulai membagikan artikel itu, berharap Duwi akan melihat berita tentang saya mencari dia.
Pagi harinya di Hari Ibu (10 Mei 2020), saya merasa lelah tanpa alasan, tetapi masih berpakaian rapih dan pergi untuk les. Saat waktu istirahat, saya melihat beberapa pesan dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu dikirim oleh reporter Indonesia! Seseorang yang adalah kerabat Duwi meninggalkan komentar di kolom komen di berita tersebut, mengatakan bahwa Duwi juga mencari saya, bahkan memposting foto untuk saya mengenalinya. Sayangnya, fotonya terlalu buram untuk membuktikan. Meskipun saya tidak dapat mengonfirmasi bahwa itu Duwi, berita itu membuat hati saya deg-degan. Saya ingin segera pulang dan menghubungi siapa pun yang tepat pada saat itu.
Tetapi, saya tetap menunggu hingga les saya selesai. Saat saya selesai dari les, saya membuka pesan di handphone saya sekali lagi dan melihat pesan yang batu:
“Hallo kak, apakah kamu mencari bibi ini?”
Wanita yang mengirim pesan tersebut adalah pendatang baru di Taiwan, dulu, dia bekerja untuk sebuah agen di Taiwan dan ternyata dia adalah saudara perempuannya tetangga Duwi. Setelah melihat artikel tersebut di internet melalui temannya, dia ingin menolong kami dan mempersatukan kami. Setelah mencari berbagai informasi tentang saya, dia akhirnya menghubungi saya.
Dia mengirimkan saya 2 foto, yang satunya sangatlah buram, tetapi yang lain diambil di rumah lama kami. Di dalam foto tersebut, ada ibu, nenek dan saya memegang boneka beruang di lenganku, yang digenggam Duwi.
Ketika saya melihat foto itu, air mata mulai mengalir di mata saya. Itu Duwi, itu benar-benar Duwi!
Ya Tuham, aku terus berdoa di dalam hatiku dan bergegas ke lantai dasar secepat mungkin. Terengah-engah, saya langsung pergi ke stasiun MRT dan mendapatkan kontak Duwi. Saya segera mengunduh aplikasi untuk berkomunikasi dengan Duwi, dan mencoba menghubunginya dalam perjalanan pulang.
“Duwi! Apakah kamu ingat saya? Ini Tiffany….”
Segera ada balasan, “Hallo…. Meimei…ma….” (“Hallo, adik…”)
Setelah mendengar suaranya, saya tidak bisa menahan tangis saya saat saya di MRT (saya memintaan maaf kepada orang-orang didekat saya, saya sangat sehat, berharap saya tidak menbuat kepanikan). Saya mengiriminya foto saya bersama dua saudara lelaki saya ketika kami masih kecil, dan dia memanggil nama kami satu per satu. Duwi ingat kita semua, dan saya benar-benar menemukannya.
Setelah saya pulang rumah, saya tidak bisa sabar lagi menunggu dan memberi tahu salah satu saudara laki-laki saya bahwa kita telah menemukan Duwi. Tetapi saya menangis sangat keras sehingga setiap kata yang saya diucapkan bergumam, membuat kakak saya bingung. Beberapa saat kemudian, saat tangisan saya lebih reda, kakak saya memahami situasinya dan menyuruh saya untuk menjadi lebih tenang, kalau tidak, Duwi tidak akan mengerti apa pun yang saya katakan ke dia.
Saya masi menangis, tetapi tetap tetap mengatur video call. Saya masuk ke kamar saya, membawa boneka beruang yang Duwi berikan, dan memencet tombol telepon, menunggu Duwi untuk mengangkatnya…
: “Ohh, gadisku, yang tembem, aku merindukanmu.” Video call tersebut segera diangkat, Duwi muncul dengan senyuman lebar di mukanya dan memberikan ciuman pada kamera.
: “Oh Tuhan …” Saya sekali lagi menangis dan terbata-bata di setiap kata-kata yang berikan. Saya tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi, ini bukan mimpi, Duwi berbicara pada saya, di depan mata saya….
Kami saling berbagi cerita tentang kehidupan kita belakangan ini, di mana keluarga kami berada dalam beberapa tahun terakhir, dan apakah epidemi telah dikendalikan dengan baik di daerah kami…
: “Gadisku, saya juga ada boneka itu.” Kata Duwi.
Mungkin ingatan saya salah karena saya berpisah dengan Duwi saat saya sangat kecil, saya hampir tidak dapat mengingat apapun tentang boneka beruang itu. “Kamu memberikan boneka ini saat saya pulang. Kamu memberikan boneka itu untuk mengurangi rasa rindu kepadamu.” Dia melanjutkan dengan suara yang terbata-bata sembari menangis.
Ingatanku perlahan-lahan kembali dengan kata-kata Duwi. Oh ya, saya memang memberinya beruang itu. Saya takut Duwi memikirkan saya, tetapi kita tidak akan pernah bertemu lagi, jadi saya memberinya boneka beruang. Dengan cara ini, ketika dia memikirkan saya, dia bisa menggenggam boneka beruang itu, seperti bagaimana saya menggenggam boneka saya ketika saya merindukannya.
Kami berbicara melalui video call berjam-jam. Sebelum menyelesaikan video call, saya berkata, “Duwi, ayo kita foto bersama dengan boneka beruang nya juga.” Duwi pun setuju.
Setelah berpisah selama lima belas tahun, saya akihirnya memiliki foto kedua kami. Di sisi lain, Duwi memiliki banyak foto saya, dan dia menyimpannya dengan hati-hati di sebuah album sebelum dia balik ke Indonesia.
Saya membuat janji pada Duwi, untuk mengunjungi dia dan keluarga nya saat wabah ini selesai bersama dengan keluarga saya, untuk kuliner makanan di Indonesia. Kita akan belajar lebih banyak tentang kota asalnya, bersenang-senang bersama, sama seperti disaat dia biasa membawaku ke mana-mana.
Mengingat bagaimana seluruh kejadian ini terjadi, saya tahu ini semua adalah keajaiban. Toh, siap yang akan menyangka kalau kita akan bertemu lagi dengan semua kendala yang ada. Ada terlalu banyak keraguan yang saya rasakan, beberapanya seperti; apakah Duwi aman dan sebat, apakah kota asalnya memiliki internet yang memungkinkan dia untuk melihat artikel ini, dan total populasi Indonesi adalah 267,7 juta.
Oleh karena itu, saya mau mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua orang yang telah membantu dalam proses ini, untuk keluargaku, teman-temanku, semua orang yang telah membagikan artikel ini, semua orang yang telah memberikanku semangat lagi dan lagi di kolom komen, dan juga wartawan-wartawan yang dengan tulus membantu kami. Tanpa seorang pun dari anda, keajaiban ini tidak akan terjadi, saya juga tidak mungkin berani mengambil langkah pertama saya, belum lagi pesan melintas batas geografis dan bahasa. Tanpa bantuan dari segala bentuk, Duwi dan saya tidak akan bertemu lagi. Dengan tulis, saya mau berterimakasih sebanyak-banyaknya.
Terakhir, saya mau mengakhiri dengan kutipan dari artikel yang dikontribusi oleh Brilliant Times Bookstore, meringkas semua keajaiban ini;
“Never stepped out the first step, we knew nothing that daydreams may also come true.” (Jika kita tidak pernah melangkah keluar dari langkah pertama, kita tidak akan tahu bahwa lamunan pun bisa menjadi kenyataan)
Sudah lima belas tahun dan pertemuan yang seperti mencari jarum di tumpukan jerami, akhirnya menjadi keajaiban bagaikan memancing ikan. Dia melihat postingan saya, semua kebetulan yang luar biasa sangatlah realistis, kami masih menghargai kebersamman – bahkan keberadaan – satu sama lain, dan dapt membuat cerita kami bersama.
Ingatlah untuk selalu meraih semua kesempatan ketika masih ada waktu. Beritahu semua orang yang kamu sayangkan, “aku sayang kamu.”
Dan lagi, terimakasih sebesar-besarnya, terimakasih kepada semua orang yang telah membantu dalam seluruh proses ini. Semoga semua orang baik-baik saja, dan juga semoga kita tidak akan melewatkan orang-orang uanv penting.
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. – Matius 7:8
紫涵
Tiffany
分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載
瀏覽次數:31729