圖片來源:燦爛時光書店提供。

TSAI ING WEN, CERMIN KESETARAAN(本文為雙語呈現,何景榮翻譯)

我第一次知道蔡英文這號人物,是我在台灣擔任老人看護的時候。當時,我已經在台工作了一年半,我和照顧的阿公在一則新聞報導裡看到了她。我聽不太懂她當時的演說內容,但是她堅毅的態度與樸實的外表,卻深深吸引了我。畢竟,在鎂光燈前的女性,不論是誰,總能特別吸引到我的目光。我向阿公打聽她的身分。

「她是蔡英文,綠營的領袖,未來或許會成為台灣的總統候選人。」阿公答道。

從此之後,我就一直默默追蹤這位「很厲害的女生」的相關新聞,儘管她並不是我雇主一家人所支持的政治人物。靠著追蹤相關新聞,我也瞭解到阿公口中的「綠營」就是民進黨,全名為民主進步黨。我不懂政治,也對如何治理這個島國一無所知;我來台灣是為了工作,如此而已。

讓我想更深入了解蔡英文的原因,在於她是一位女性,同時又是一位領導人。每當看到女性領導人時,我就覺得有人站出來替我發聲,替我落實性別平等的夢想。

對於大多數台灣民眾或世界各地已開發國家的公民來說,兩性平權的議題或許已不再是問題。但是,對我這個遠道而來的鄉下女子,沒受過良好教育、身處社會底層的次等公民來說,性別平等卻是個遠在天邊且遙不可及的夢想。主要的原因,是因為印尼尚未賦予女性明確的角色──儘管我們也曾出過女總統,以及中央與地方上的女性首長。只不過,在我內心對社會環境的理解裡,女性的地位始終屈居於男性之下。在印尼,女性並不是決策者;就算是比較聰明、比較能幹的女性,也沒辦法跟男性平起平坐。

等到我在台灣成為非法家庭幫傭後,就更體會了女性這種屈居人下的情況。我在一個好人家工作,他們也履行了當初所承諾的所有約定。但是,我的活動空間與個人自由卻極為有限;工作了兩年,連一天假也沒休過!

我被迫接受這種情況,畢竟我在心態上就已經矮人家一截。社會環境已經宣告了我這個從事卑微工作的女性,必須乖乖聽從雇主與仲介業者所說的一切;事實上,我已經受到馴化,對各種規定不會有太多怨言,有時還甘願犧牲自己的部分權益。

幸好,我還可以利用休息與空閒時間,閱讀書籍、從事寫作。我的雇主只限制了我有形的活動空間,卻無法限制我透過閱讀與寫作,在天馬行空的想像空間裡自由自在、盡情揮灑。我閱讀了很多書籍與網路文章,尤其是關於女性與性別平權的著作。從這些書籍與文章裡,我認識了菲律賓前總統雅羅育(Gloria Macapagal Arroyo)、希拉蕊˙柯林頓(Hillary Clinton)、柴契爾夫人(Margaret Thatcher)、翁山蘇姬(Aung San Suu Kyi)、蔡英文,乃至諾貝爾和平獎得主馬拉拉(Malala Yousafzai)與德蕾莎修女(Mother Teresa)這些成為卓越領袖、替世界帶來改變,同時也啟發了我的傑出女性們。她們的精神,讓我自信心大增;在我心中原本遠在天邊的性別平權,變得不再遙不可及。

此時此刻,儘管我已不再身處台灣,聽聞蔡英文贏得總統大選,依舊心花怒放。我很高興看到一位女性領導整個國家!或許她在台灣的勝選,對遠在他鄉的我,並不會在生活上帶來多大改變;但是,瞭解了一位傑出女性的故事,讓我更以身為女性而自豪。或許我自己的地位,還是遠低於大多數的男性,但是蔡英文的成就,讓我不再羞於擁抱性別平權的夢想。

不論如何,對我而言,台灣有自己的歷史。雖然台灣受限於狹小的地理空間,我在這裡反而獲得了難得的機會,讓我的思想與靈魂,透過閱讀與寫作而首次獲得解放。在這個美麗之島,我與數十萬印尼同胞們一同工作、奮鬥,追求更美好的生活,當然也希望台灣能變得更好!

我一輩子都在探詢性別平等的議題;蔡英文的故事與她的成就,讓我日益獲得啟發,了解到性別平權並不只是遙不可及的夢想。

敬祝蔡總統政躬康泰!

(作者Erin Cipta,曾在台工作,是兩個孩子的母親;如今已返回印尼務農,與家人團聚,並經營鄉村圖書館,免費提供當地居民閱讀機會。)

 

原文:

TSAI ING WEN, CERMIN KESETARAAN

(Pandangan seorang mantan pekerja migran asal Indonesia atas Presiden Tsai)

Pertama kali saya mengetahui sosoknya adalah saat saya bekerja di Taiwan menjadi perawat orang jompo. Saat itu, saya sudah bekerja sekitar satu setengah tahun. Saya melihatnya di televisi, dalam sebuah siaran berita yang saya tonton bersama kakek yang saya rawat. Saya tidak begitu memahami pidato yang sedang dibawakannya, namun ketegasan sekaligus kesederhanaan yang ditampilkannya sangat memukau. Perempuan yang tampil di depan, selalu menarik perhatian saya. Siapa pun itu. Saya tanya pada kakek, siapakah sosok bersahaja itu.

“Dia Tsai Ing Wen. Pemimpin Partai Hijau. Mungkin akan menjadi calon presiden Taiwan berikutnya,” begitu jawab kakek.

Sejak itu, diam-diam saya selalu berusaha mengikuti berita tentang perempuan hebat itu, meski dia bukan politikus yang didukung oleh keluarga majikan saya. Dari mengikuti berita ini pula akhirnya saya tahu bahwa yang dimaksud kakek dengan Partai Hijau adalah DPP, atau Democratic Progressive Party. 

Saya tak mengerti politik, atau segala hal tentang pemerintahan negara Pulau Daun ini. Saya di Taiwan bekerja, dan hanya sebatas itu saja. Yang membuat saya ingin tahu lebih dalam pada Tsai Ing Wen, adalah karena dia seorang perempuan. Dan dia seorang pemimpin. Ada satu mimpi saya yang rasanya terwakili setiap kali melihat seorang perempuan memimpin: mimpi tentang kesetaraan.

Bagi kebanyakan warga Taiwan, dan warga negara kelas satu di seluruh dunia, isu kesetaraan gender mungkin bukan lagi menjadi masalah. Namun bagi saya, seorang perempuan dari desa yang jauh, warga kelas tiga (tingkat bawah), dan tidak pernah bersekolah tinggi, kesetaraan gender adalah mimpi di awang-awang. Sangat sulit saya raih. Secara mayor, Indonesia bukanlah negara yang membatasi peran perempuan. Nyatanya kami pernah pula mempunyai presiden, menteri, dan pemimpin-pemimpin daerah yang perempuan. Namun di dalam tatanan sosial lingkungan minor saya, posisi perempuan selalu berada di bawah laki-laki. Perempuan di sini bukanlah pengambil keputusan. Betapa pun perempuan lebih pintar dan lebih hebat, tak akan pernah bisa menyamai kedudukan laki-laki di sini. 

Keadaan seperti ini diperparah ketika saya menjadi pekerja rumah tangga informal di Taiwan. Saya bekerja di keluarga yang baik dan memenuhi semua hak saya sesuai perjanjian, namun ruang gerak dan kebebasan saya sangat terbatas. Saya bekerja dua tahun tanpa hari libur sama sekali. Keadaan itu terpaksa saya terima, karena secara mentalitas saya sudah kalah. Lingkungan sosial menghakimi bahwa saya: perempuan pekerja rendahan, harus menurut pada apapun yang dikatakan majikan atau agensi. Saya sudah terlatih untuk tidak terlalu banyak protes dengan segala aturan meski kadang harus kehilangan sebagian hak saya.

Beruntung bahwa saya boleh memanfaatkan waktu istirahat dan waktu luang saya untuk membaca buku dan menulis. Majikan saya hanya membatasi ruang gerak fisik saya, namun tidak membatasi petualangan pikiran saya lewat buku dan tulisan. Dan di ranah inilah saya merasa merdeka. Banyak buku dan artikel internet saya baca, terutama tentang perempuan dan kesetaraan. Dari buku dan tulisan-tulisan itu saya mengenal Gloria Macapagal Arroyo, Hillary Clinton, Margareth Thatcher, Aung San Suu kyi, Tsai Ing Wen, bahkan Malala Yousafzai, Mother Teresa dan perempuan-perempuan hebat dunia yang berhasil menjadi pemimpin atau pun melakukan perubahan besar. Mereka selalu menginspirasi. Semangat mereka membuat kepercayaan diri saya naik, dan mimpi tentang kesetaraan yang ada di awang-awang, saya rasa bukan hal mustahil yang suatu saat bisa saya raih.

Dan saat ini, meski saya sudah tidak lagi berada di Taiwan, mendengar berita bahwa Tsai Ing Wen berhasil memenangi pemilihan umum presiden, dada saya mengembang. Saya bangga sekali melihat seorang perempuan memimpin sebuah negara. Mungkin saja peristiwa di Taiwan ini tak banyak berpengaruh pada perubahan kehidupan saya di desa yang jauh ini, namun mengetahui satu lagi kisah perempuan hebat membuat saya merasa lebih layak. Mungkin saja saya tetap masih ada di bawah laki-laki, namun pencapaian Tsai Ing Wen membuat saya tak malu memeluk mimpi tentang kesetaraan.

Bagaimanapun, Taiwan adalah tempat yang bersejarah bagi saya. Di sini lah saya untuk pertama kalinya mendapatkan momentum, saat ruang gerak fisik saya terbatas, saya menemukan bahwa membaca dan menulis bisa memberi kemerdekaan bagi jiwa dan pikiran saya. Di tanah Formosa pula ratusan ribu saudara saya bekerja dan berjuang untuk hidup yang lebih baik. Tentu saja saya mengharapkan keadaan yang lebih baik untuk Taiwan. 

Sepanjang hidup saya selalu bertanya tentang kesetaraan,  sosok Tsai Ing Wen dan pencapaiannya membuat saya makin terinspirasi. Bahwa kesetaraan gender bukan hanya sekedar mimpi.

Semoga panjang umur, Presiden Tsai!

(Ditulis oleh Erin Cipta. Ibu dari dua anak yang pernah bekerja di Taiwan. Sekarang hidup di desa kelahiran bersama keluarga, bertani dan mengelola sebuah perpustakaan gratis untuk masyarakat)

瀏覽次數:18120

延伸閱讀

「獨立評論@天下」提醒您:
1.本欄位提供網路意見交流平台,專欄反映作者意見,不代表本社立場
2.發言時彼此尊重,若涉及個人隱私、人身攻擊、族群歧視等狀況,本站將移除留言。
3.轉載文圖請註明出處;一文多貼將隱藏資訊;廣告垃圾留言一律移除。
4.本留言板所有言論不代表天下雜誌立場。