國際

Kerusuhan Jakarta Meluas: DPR Menyalahgunakan Kekuasaan demi Keuntungan Pribadi , Pengangguran Meningkat, Apa Lagi yang Membakar Amarah Pemuda Indonesia?

“Kabur Aja Dulu” di media sosial. Kematian Affan menjadi simbol ledakan amarah atas DPR yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan, pengangguran yang meningkat, serta kebebasan pers yang dibungkam. “Kabur Aja Dulu” di media sosial. Kematian Affan menjadi simbol ledakan amarah atas DPR yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan, pengangguran yang meningkat, serta kebebasan pers yang dibungkam. 圖片來源:Wulandari Wulandari/Shutterstock

中文版請見:雅加達暴動蔓延:國會自肥、失業攀升,還有什麼引發印尼年輕人的怒火?

Indonesia, negeri seribu pulau yang dianugerahi sumber daya melimpah, kini jalanan justru terbakar oleh api kemarahan rakyat. Ini bukan sekadar aksi protes, melainkan sebuah gejolak sosial ketika media dibungkam dan rakyat dipaksa untuk diam.

Selama kerusuhan, fitur live di TikTok dan Meta ditutup, jurnalis ditangkap dan diusir dari area gedung DPR. Bagi sebagian rakyat, yang paling menakutkan bukanlah gas air mata, melainkan rasa sesak karena “dibungkam”: amarah dan luka yang tak tersampaikan ke dunia luar, kebenaran terperangkap di balik tembok negara.

Rakyat Kecil Ingin Kabur dari Tanah Air

Pemicu awalnya adalah sebuah tragedi. Pada 28 Agustus, seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan (21 tahun) tewas terlindas kendaraan berlapis baja di sekitar gedung DPR Jakarta. Ia bukan demonstran, ia hanyalah seorang pemuda yang sedang bekerja mencari nafkah. Namun ketika tubuhnya terlindas di bawah roda panas itu, amarah sosial yang sudah lama terpendam meledak seketika. Rekaman peristiwa menyebar luas di media sosial, dan Affan pun menjadi simbol kemarahan rakyat.

“Kita semua adalah Affan!” teriak seorang demonstran. “Kita semua adalah peluh yang diabaikan, kerja keras yang tak dihargai.” Seruan itu menjalar seperti api, membakar bukan hanya Jakarta, tapi juga Surabaya, Kalimantan, Makassar, Yogyakarta, hingga kota-kota lain.

Kematian Affan hanyalah percikan terakhir yang menyulut bara. Keluhan rakyat sudah lama menumpuk: program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mestinya menyehatkan anak-anak malah berubah jadi kasus keracunan akibat salah urus; krisis BBM memaksa rakyat antri panjang di SPBU(Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum); kebebasan pers dibungkam dengan pengusiran jurnalis; harga beras melambung hingga dapur rakyat miskin tak lagi mengepul. Sementara itu, anggota DPR dengan enteng meloloskan tunjangan rumah sebesar USD 3.000 per bulan, nyaris 10 kali lipat dari Upah Minimum Regional di Jakarta. Kekontrasan ini menusuk lebih dalam daripada cercaan apapun.

Rakyat kecil terjepit oleh krisis pangan, BBM, dan ketidakpastian kerja, sementara elit politik menikmati privilese. Sumber gambar:Wulandari Wulandari/Shutterstock

Gelombang “Kabur Aja Dulu”: Dari Lelucon Medsos ke Arus Migrasi

Pada Februari 2025, dunia maya Indonesia dipenuhi dengan satu tagar: #KaburAjaDulu yang seolah-olah hanya kelakar:“Kabur dulu, masa depan urusan belakangan”.

Namun di balik tawa getir itu, tersimpan kerinduan pada negeri yang adil dan beradab. Semakin banyak anak muda bermimpi pergi, mencari pekerjaan, pendidikan, dan hidup yang lebih layak. Candaan itu pun menjelma menjadi arus migrasi sukarela yang lahir dari putus asa sosial dan politik.

Namun mimpi untuk “kabur” itu tidak selalu berakhir dengan harapan.

Pada 28 April 2025, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Abdul Kadir Karding mengumumkan di Komisi IX DPR: Terhitung dari tahun 2024–2025 , 1.235 orang WNI menjadi korban perdagangan manusia di Asia Tenggara, terutama di Myanmar, Kamboja, dan Laos. Data ini semakin menegaskan bahwa “kabur” bukan berarti bebas, melainkan bisa jatuh ke jerat perbudakan baru.

Menurut laporan Walk Free, sekitar 1,8 juta orang Indonesia hidup dalam perbudakan modern dan  Indonesia adalah salah satu negara terparah di Asia Pasifik. Bagi banyak pemuda, “melarikan diri” bukanlah pintu kebebasan, melainkan gerbang menuju penjara lain.

Ironi di Hari Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, ironi itu semakin terasa. Taiwan—yang secara hukum internasional belum sepenuhnya diakui sebagai negara merdeka—justru sibuk mendatangkan pekerja asing untuk menutup kekurangan tenaga kerja. Sementara itu, Indonesia yang telah 80 tahun merdeka, terjebak dalam krisis pengangguran. Tingkat pengangguran pemuda mencapai 17%, jauh di atas rata-rata nasional 5%. Bagi generasi muda, tidak ada pekerjaan berarti tidak ada masa depan.

Peraturan baru semakin memperburuk kecemasan. Rekening bank yang tidak aktif selama 3 bulan akan dibekukan, tanah yang tidak digarap selama 2 tahun akan diambil negara. Bagi pekerja migran, ini beban besar: kontrak kerja di Taiwan sepanjang 3 tahun. Jika rekening mereka jarang dipakai, bisa dibekukan; jika tanah keluarga dibiarkan, bisa disita negara. Pergi merantau pun terasa tidak aman.

Lebih menyakitkan lagi adalah sikap para elit politik. Ketika rakyat berteriak menyampaikan aspirasi, ada pejabat yang justru mengejek para demonstran sebagai “orang-orang tolol”. Penghinaan ini menjadi bensin yang menyulut api. Pihak yang beruntung adalah penguasa elit dan aparat keamanan, yang menikmati tunjangan dan privilese, bahkan semakin menguat setelah penindasan. Sementara yang menderita adalah rakyat kecil dan generasi muda: mereka kehilangan pekerjaan, tidak mampu membeli beras, dan tidak dapat melihat masa depan.

Dulu, Jokowi muncul sebagai “presiden rakyat jelata”,namun sepuluh tahun kemudian, Mahkamah Konstitusi membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang baru berusia 36 tahun, untuk maju dan akhirnya terpilih. Sumber gambar:Donny Hery/Shutterstock

Runtuhnya Harapan pada Jokowi dan Politik Dinasti

Bagi sebagian rakyat, luka terdalam datang dari rasa dikhianati. Dulu, Jokowi muncul sebagai “presiden rakyat jelata” dengan citra bersih, sederhana, dan anak-anaknya yang tidak masuk ke ranah politik. Saat itu rakyat percaya, era baru telah datang.

Namun sepuluh tahun kemudian, pada Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk melonggarkan syarat usia calon wakil presiden. Keputusan ini membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang baru berusia 36 tahun, untuk maju dan akhirnya terpilih. Ketua MK saat itu, Anwar Usman yang adalah ipar dari Jokowi, kemudian dijatuhi sanksi karena konflik kepentingan. Publik menilai, putusan itu merupakan akal-akalan hukum untuk melanggengkan kekuasaan keluarga. Reformis berubah menjadi elit baru; demokrasi yang seharusnya membongkar dinasti malah menjadi alat pewarisan kekuasaan.

Peta politik pun terguncang. Di satu sisi ada pendukung pemerintah: koalisi penguasa, sebagian pengusaha, dan kelas menengah yang lebih mengutamakan stabilitas ketimbang reformasi. Di sisi lain ada para penentang: generasi muda, buruh, serta kelompok masyarakat sipil. Mereka menyalurkan amarah lewat meme dan video satir, lalu turun ke jalan, mengubah humor gelap di dunia maya menjadi kobaran api nyata.

Kegelisahan hari ini memang memiliki latar yang berbeda, tetapi emosinya begitu mirip: tekanan ekonomi, kesombongan politik, dan keputusasaan rakyat. Sumber gambar:Wulandari Wulandari/Shutterstock

Ketimpanganan dan Bayang-Bayang Tragedi 1998

Lebih dari dua dekade lalu, Tragedi Mei 1998 membuat toko-toko etnis Tionghoa dijarah dan dibakar, keluarga demi keluarga tercerai-berai. Bayangan kelam itu masih membekas hingga kini. Saat itu, banyak perempuan Tionghoa Indonesia terpaksa meninggalkan tanah kelahiran demi menghindari rasa takut dan ketidakpastian. Sebagian menikah dengan pria Taiwan untuk mencari perlindungan, sebagian lagi pergi ke negara lain untuk mencari kehidupan yang baru. Mereka datang dengan beban keterasingan budaya dan bahasa, serta rasa kehilangan akar yang mendalam.

Kegelisahan hari ini memang memiliki latar yang berbeda, tetapi emosinya begitu mirip: tekanan ekonomi, kesombongan politik, dan keputusasaan rakyat.

Apakah sejarah akan terulang? Jawabannya bergantung pada pilihan penguasa: apakah akan merespons dengan reformasi, atau justru mempertahankan kekuasaan lewat represi. Rakyat pun punya tanggung jawab untuk menjaga demokrasi—menyuarakan amarah dengan cara yang bermartabat, tanpa menjarah toko, merusak rumah, atau menghancurkan aset publik.

Indonesia kini berdiri di persimpangan sejarah. Semoga bangsa ini memilih untuk belajar, bukan mengulang luka lama.

Semoga esok tidak hanya menghadiahkan kehidupan yang layak dan tenteram bagi rakyat di tanah air, tetapi juga membawa ketenangan bagi kami yang berjuang jauh di negeri orang.

分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載

瀏覽次數:727

獨立評論

每週四,精選觀點直送信箱!現在就訂閱獨立評論電子報

編輯推薦

延伸閱讀

Ini adalah kolom yang disajikan dalam bahasa Indonesia. Kami memilih dan menerjemahkan artikel ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat berbagi perspektif dengan pembaca dari beraneka ragam bahasa.
這是一個以印尼語呈現的專欄,我們精選文章翻譯為印尼語,希望和不同語文的使用者一同分享觀點。

「獨立評論@天下」提醒您:
1.本欄位提供網路意見交流平台,專欄反映作者意見,不代表本社立場
2.發言時彼此尊重,若涉及個人隱私、人身攻擊、族群歧視等狀況,本站將移除留言。
3.本留言板所有言論不代表天下雜誌立場。

Ini adalah kolom yang disajikan dalam bahasa Indonesia. Kami memilih dan menerjemahkan artikel ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat berbagi perspektif dengan pembaca dari beraneka ragam bahasa.
這是一個以印尼語呈現的專欄,我們精選文章翻譯為印尼語,希望和不同語文的使用者一同分享觀點。

分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載