東南亞移民工

“Menjual Rekening Bank  Yang Tidak Terpakai ” – Begini Pekerja Migran Terjebak Penipuan

Banyak pekerja migran di Taiwan, kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal setelah rekening bank miliknya digunakan dalam kasus pencucian uang. Banyak pekerja migran di Taiwan, kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal setelah rekening bank miliknya digunakan dalam kasus pencucian uang. 圖片來源:Tanu4869/Shutterstock

中文版請見:以為「帳戶不用可以賣錢」,移工就這樣落入詐騙陷阱……

“Kami tidak bisa lagi mempekerjakan Anda karena Anda terlibat dalam kasus pencucian uang.”

Indah (nama samaran) menundukkan kepala ketika menerima surat pemutusan kontrak kerja dari majikannya. Tanpa membantah ataupun menangis, ia menandatangani dokumen itu dengan tenang. Sebab ia tahu, semua ini adalah konsekuensi dari keputusannya yang ceroboh.

Pengadilan menjatuhkan hukuman 3 bulan penjara kepadanya atas dakwaan pencucian uang. Meskipun hukuman penjara bisa diganti dengan denda, namun ia tak mampu membayar denda tersebut. Akhirnya, ia memilih menjalani kerja sosial: setiap hari berangkat pukul 8 pagi dan baru pulang pukul 5 sore. Selama waktu itu, nenek lanjut usia yang biasa ia rawat pun tak ada yang menjaga, akhirnya majikan terpaksa mencari pengganti.

Setelah diberhentikan, Indah tidak punya tempat tinggal. Ia sementara menumpang di asrama temannya. Namun, tak ada majikan baru yang bersedia mempekerjakannya karena ia harus menjalani kerja sosial di siang hari. Sedangkan masa tenggang perpindahan majikan hanya 60 hari.

Terlebih lagi, tempat kerja sosialnya pun jauh dan sulit dijangkau, sementara ia tidak memiliki sepeda motor maupun sepeda. Ketika meminta bantuan agen, ia hanya mendapat jawaban dingin: “Itu urusan pribadimu, bukan bagian dari layanan kami.”

Ia merasa semua pintu dalam hidupnya telah tertutup rapat. Dan semua ini bermula dari sebuah iklan di Facebook.

Minimnya literasi finansial dan dominasi pembayaran tunai membuat pekerja migran menjadi sasaran empuk. Sumber gambar:TheVisualsYouNeed/Shutterstock

Suatu malam, saat sedang bersantai di kamar dan membuka Facebook untuk mencari kabar dari kampung halaman, Indah melihat sebuah video dalam bahasa Indonesia: “Butuh uang cepat? Kami membeli rekening dan kartu ATM dengan harga tinggi. Aman dan uang langsung cair!” Dalam video itu tampak kartu ATM dan tumpukan uang tunai yang sangat menggiurkan.

Karena berbahasa Indonesia, ia merasa itu informasi dari sesama WNI. Orang di balik iklan itu juga sangat meyakinkan, berbicara sopan dan ramah melalui pesan pribadi, “Kami cuma pinjam nama kok. Akun kamu nggak bakal kenapa-kenapa. Setelah kami terima kartu ATM-nya, langsung kami transfer Rp10 juta!”

Ia percaya. Teman-temannya juga ada yang pernah menjual rekening dan tidak mengalami masalah. Lagipula, rekening itu sudah tidak terpakai karena majikan barunya membayar upah secara tunai. Ia pun merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Beberapa bulan kemudian, ia mendapat panggilan dari kepolisian. Di kantor polisi, ia diberitahu bahwa rekeningnya digunakan untuk menampung dana hasil penipuan. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar tidak tahu kalau rekeningnya digunakan untuk kejahatan. Namun, hukum tidak menerima alasan “tidak tahu”. Memberikan kartu ATM dan rekening kepada orang lain adalah tindakan turut membantu kejahatan.

Ia panik. Jika masuk penjara, ia bisa dideportasi dan diblacklist, seumur hidup tidak boleh kembali ke Taiwan untuk bekerja lagi.

Dulu ia pikir, merantau ke Taiwan adalah jalan keluar dari kemiskinan, untuk membawa harapan bagi keluarganya. Namun, gara-gara satu keputusan ceroboh, semuanya berubah. Saat pulang ke Indonesia, yang ia bawa bukanlah kebanggaan , melainkan status sebagai terdakwa.

Ia sering membayangkan: “Kalau saja pemerintah Taiwan bisa memaafkan kebodohanku, memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri dan bekerja lagi…… Itu bukan saja demi diriku sendiri, tapi demi keluarga yang menunggu ku untuk yang telah menitipkan harapan pada ku.” Namun realitas tidak semudah angannya. Penyesalan tidak cukup untuk mengubah nasib.

Facebook, Line, TikTok, WhatsApp , semua dipenuhi oleh jebakan. Sumber gambar:ashadhodhomei/Shutterstock

Kisah Indah hanyalah satu dari banyak contoh bagaimana buruh migran menjadi korban kejahatan digital. Facebook, Line, TikTok, WhatsApp , semua dipenuhi oleh jebakan. Mereka berbicara dalam bahasa ibu kita, mengaku dari “komunitas sesama WNI”, tampil meyakinkan padahal bisa jadi bagian dari sindikat kejahatan.

Meski pemerintah sudah gencar mengkampanyekan anti-penipuan, kasus seperti ini tetap terjadi. Sebab modus penipuan selalu berkembang. Dulu penipuan cinta palsu dan penipuan hadiah undian, kini berubah menjadi jual beli kartu ATM, rekening, bahkan nomor SIM. Para penipu tahu: pekerja migran pada akhirnya akan pulang ke negerinya, dan rekening yang tidak digunakan pun tetap bisa dimanfaatkan.

Ketika belanja online mulai populer di kalangan buruh migran, muncul pula modus COD palsu, atau pengiriman paket palsu. Minimnya literasi finansial dan dominasi pembayaran tunai membuat pekerja migran menjadi sasaran empuk.

Ada juga modus penipuan lowongan kerja. Ketika masa kontrak hampir habis dan belum dapat majikan baru, banyak buruh migran nekat cari kerja di grup media sosial . Tidak sedikit yang diminta bayar “biaya job” oleh oknum calo, lalu hilang tanpa kabar. Seorang buruh migran berkata, “Saya tahu mencari pekerjaan lewat sosial media akan terjebak kedalam  penipuan, tapi saya tidak punya pilihan lain. Kalau tidak mendapat pekerjaan, saya harus keluar dari Taiwan dalam 14 hari.”

Pencegahan penipuan tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada pekerja migran. Negara harus menutup celah penipuan.Sumber gambar:SrideeStudio/Shutterstock

Pencegahan penipuan tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada pekerja migran. Negara harus menutup celah penipuan. Layanan 165 Anti-Penipuan hanya tersedia dalam bahasa Mandarin dan Inggris , padahal mayoritas pekerja migran tidak menguasai kedua bahasa tersebut. Layanan multi-bahasa seperti Bahasa Indonesia, Vietnam, dan Thailand sangat diperlukan. Setidaknya, harus ada penerjemah di tahap awal pelaporan.

Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan platform media sosial untuk menghapus iklan berbahasa asing yang berpotensi penipuan. Saat ini banyak konten berbahasa Indonesia atau Vietnam yang lolos dari pemantauan.

Lebih jauh lagi, penting adanya mekanisme observasi korban bagi mereka yang terbukti tidak memiliki niat jahat dan tidak menerima keuntungan. Mereka seharusnya mendapat pendampingan hukum atau penundaan tuntutan hukum dengan pengawasan. Para pelaku utama biasanya sudah kabur ntah kemana. Sedangkan para korban tertinggal di tingkat bawah menanggung semua hukumannya.

Kita tidak boleh hanya berkata, “Mereka harus lebih hati-hati.” Melainkan harus menciptakan sistem yang memungkinkan mereka punya tempat untuk berteduh, suara untuk didengar dan jalan untuk keluar .

Kalau Sudah Terlanjur Tertipu, Apa yang Harus Dilakukan?

  •  Segera hubungi 165 Anti-Scam Hotline (minta bantuan teman atau penerjemah jika perlu).

  •  Segera blokir dan laporkan rekening/kartu ke bank untuk mencegah penyalahgunaan lanjutan.

  • Lapor ke polisi dan simpan bukti laporan sebagai bukti bahwa Anda adalah korban.

  • Hubungi lembaga sosial atau Hotline 1955 untuk pekerja migran. Mereka bisa membantu memberi informasi hukum yang akurat.

分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載

瀏覽次數:1101

獨立評論

每週四,精選觀點直送信箱!現在就訂閱獨立評論電子報

編輯推薦

延伸閱讀

Ini adalah kolom yang disajikan dalam bahasa Indonesia. Kami memilih dan menerjemahkan artikel ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat berbagi perspektif dengan pembaca dari beraneka ragam bahasa.
這是一個以印尼語呈現的專欄,我們精選文章翻譯為印尼語,希望和不同語文的使用者一同分享觀點。

「獨立評論@天下」提醒您:
1.本欄位提供網路意見交流平台,專欄反映作者意見,不代表本社立場
2.發言時彼此尊重,若涉及個人隱私、人身攻擊、族群歧視等狀況,本站將移除留言。
3.本留言板所有言論不代表天下雜誌立場。

Ini adalah kolom yang disajikan dalam bahasa Indonesia. Kami memilih dan menerjemahkan artikel ke dalam bahasa Indonesia dengan harapan dapat berbagi perspektif dengan pembaca dari beraneka ragam bahasa.
這是一個以印尼語呈現的專欄,我們精選文章翻譯為印尼語,希望和不同語文的使用者一同分享觀點。

分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載