[編按]20世紀脫離殖民的亞非諸國,幾乎都是靠激昂的民族意識建造起來的。然而一群歷史、族群、宗教、經濟能力等背景互異的人,成為一個被想像、被建構出的共同體,實而存在理想上的矛盾,往往也轉變為暴力的意識形態競逐。印尼身為世界上最大的群島國家,自1945年獨立建國之初便開啟了她在宗教、族群、階級、政治上各種不曾停歇的衝突。1989年5月蘇哈托因五月暴動而下台,告別了30餘年的獨裁歲月,然而民主化至今,似乎又到了一個非常關卡。近日印尼軍方、警方與極端伊斯蘭組織,積極掃蕩其所謂「新興的共產勢力」,包括高等教育機構所開設的各種關於共產主義討論課程、違法查禁書籍、突襲文化活動,甚至逮捕、拘留社運人士與穿有鐮刀、槌子等「共產意象」衣服的民眾。本文藉印度裔英國作家薩爾曼.魯西迪的文學巨作,反思印尼建國至今諸多政治上的動盪。獨立建國即將滿71年的印尼,目前各黨各派的對立已是風雨欲來,她如何處理過去黑暗的歷史,她又要往哪裡去?值得深省。
接連而來的混亂
「穩定」在超過30年的歲月裡,成為阻塞民主發展的藉口。各種衝突可以說係根源自法律的不公,以及因政策遭邊緣化的族群。而衝突發展的過程中常依附著族群及宗教議題,如此才足以長時間地牽動廣大的群眾。
以加里曼丹(Kalimantan)的Madura、Dayak兩族群的衝突為例,來自外地的Madura族移民精於營生而壟斷了當地的經濟動脈,使得本地原住民Dayak族被邊緣化。從過去的研究案例來看,當地發生過不少重創Dayak社群的謀殺案件(主要係因為Dayak-Madura的幫派行動),案中的嫌犯(剛好都是Madura人)多沒受到法律的制裁。Dayak與Madura發生過兩次大規模的衝突:1996年12月至1994年1月,在西加里曼丹省(Kalimantan Barat)的Sanggau Ledo,暴動導致600人死亡;另一次則是2001年在中加里曼丹省(Kalimantan Tengah)Sampit的暴動,500人死亡、10萬人流離失所。
除此之外,1998年12月~2002年12月間在安汶(Ambon)發生的伊斯蘭與基督教徒長達四年的衝突中,造成8,000至9,000人死亡。以物質損失來看,安汶的衝突毀壞了至少29000棟民房、45間清真寺、47間教堂、719間商店、38棟政府大樓、以及4家銀行。同樣地在中蘇拉威西省(Sulawesi Tengah)的Poso,伊斯蘭與基督教間的三次衝突(1998年12月25-29日、2000年4月17-21日、2000年6月15日)裡,犧牲的生命也是如此之多,至今仍無法詳確地估算出來。
一個接一個發生的屠殺事件(大多數都係以宗教之名),仍在21世紀的今日發生,實在已經踰越常理可理解的界線。英國媒體《The Times》記者Richard Lloyd Parry,曾在《瘋狂時代:混亂邊緣的印尼》(In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos, 2005)書寫當他看到Sanggau Ledo暴動照片時的心情:「落在地上頭顱……與其說是殘酷,它簡直就是荒唐。」2001年Sampit暴動發生時,在一個Madura社區「Suka Ramai」裡,Parry甚至曾被詢問,是否要嚐嚐「人肉沙嗲(烤肉串)」。筆者也親眼看過一位到Poso拍攝的記者朋友Jamrin Abubakar所拍攝的照片……
之前,學生上街抗議蘇哈托政府並要求其下台時,在首都雅加達以及其他大城市如梭羅(Solo)、巨港(Palembang)以及棉蘭(Medan)已發生暴動,大概有千人遇害。在這些暴動中,許多店家及公司行號──尤其是華裔印尼人所擁有的──被毀。數百位華裔女性遭到性侵,其中一些人遭輪姦、虐打,然後被殺。許多華裔印尼人因而逃離印尼。不僅如此,一位18歲的高中女生Ita Martadinata Haryono,她是Romo Sandyawan(人權運動組織)的志工,因為運動而被強暴、虐待、最後被殺害。這些暴動中發生的性侵慘案是針對性的,而非突發事件。印尼軍隊(尤其是Kopassus,陸軍精銳部隊)被指控涉入甚深。
以宗教之名發生的暴力
唉!可能Richard Lloyd Parry那本描述印尼現況的書,以《瘋狂時代》命名實在是不誇大的。蘇哈托下台以降,印尼改革至今可以說是「離開虎口,卻入鱷口。」印尼社會似乎正被引導進蘇哈托軍事獨裁之後的另一種狂熱中,例如以宗教之名所發生的暴力,至今從未停歇。
除了極端伊斯蘭組織的成立,如Front Pembela Islam(FPI,伊斯蘭捍衛者陣線)──FPI的出現與那些新秩序的政治、軍事菁英在壓制學生與左翼社運人士的角力拖不了關係。另外也出現了激進的「跨國」伊斯蘭組織,如由Abu Bakar Basyir領導在梭羅成立的Majelis Mujahiddin Indonesia(MMI,印尼聖戰會);Hizbut Tahrir Indonesia(HTI,印尼伊斯蘭解放黨)──一個理念上致力於恢復哈里發國(Khilafah)榮光激進伊斯蘭政黨;以及同樣由Abu Bakar Basyir成立的Jemaah Ansharut Tauhid(JAT);還有最近由Abu Wardah Santoso在中蘇拉威西(Sulawesi Tengah)成立、並與「伊斯蘭國」關係匪淺的Mujahidin Indonesia Timur(MIT)。
除了上述幾個組織,還有其他亦可類歸於此的極端伊斯蘭團體。儘管政壇上只有印尼伊斯蘭解放黨(HTI)採取的是非暴力走向,而奉行Salafi(薩拉菲主義)[1]及Jemaah Tabligh[2]路線的,算是Partai Keadilan Sejahtera(PKS,繁榮正義黨)。PKS是一個在國會裡影響力甚大的政黨,它在政府從上至下的各個部會皆坐擁要位,以便強硬推行以伊斯蘭律法為基底的區域政策。其目的就是把印尼變成一個伊斯蘭國家。
本地如FPI這種團體,像是披著宗教道袍的黑幫,而跨國的極端伊斯蘭組織,則深受Wahabbi運動的影響。Wahabbi是一個18世紀,在阿拉伯由Muhammad Ibnu Abdul為復興伊斯蘭教的純淨所發起的運動。這個運動反對對伊斯蘭教有其他的詮釋,並只關注於宗教的基本教義。它強調阿拉伯語在面向他們所視為異端(bid’ah)的地區差異時的重要性,並且視自己為唯一能代表伊斯蘭教真理的代言人。
濫用民主來扼制民主
除了反對世俗主義、多元主義、自由主義(被其稱為「sepilis」[梅毒〕)以及共產主義,這些激進團體也反對Pancasila與民主(被他們視為西方的異教產物)。有些甚至強調反對印尼這個共和國,對此印尼政府並無露出反制的尖牙,只是對持續發生的事件予以姑息。
他們不只對那些因為理念與其相左而被視為kafir(異教的)的人祭出追殺令,其中還包括穆斯林同胞。他們毫不猶豫地動員群眾上街抗議,而這些運動經常是暴力收場。他們也經常強迫停辦藝文及討論活動(包括學術研究的場子),尤其是那些被他們嗅到有自由主義與共產主義氣味的活動。換句話說,他們正濫用民主以扼制民主。
就在不久前, FPI以共產主義復辟為由,威脅停辦2016年3月23-24日在萬隆的法國文化中心(IFI, Institut français d'Indonésie)舉辦的一場關於Tan Malaka[3]的獨角劇場(Monologue),此演出是導演Wawan Sofyan改編自詩人Ahda Imran《我是紅毛鹿》(Saya Rusa Berbulu Merah)的作品。這個80分鐘的演出,背景只是1945至1948年間,民族英雄Tan Malaka(前印共黨主席)在出獄後走上街頭,與人民為國家獨立打拼的歷史。幸好,在萬隆市長Ridwan Kamil的保證下,活動仍然舉辦。
「Belok Kiri Fest.」(Turn Left Festival)[4]也遇到同樣的問題。這個2016年2月底在雅加達Ismail Marzuki藝術園區(TIM, Taman Ismail Marzuki)為期一個禮拜的活動,活動宗旨在於藉批判意識探討1965年事件的歷史事實。然而,這個活動被軍方以及激進的伊斯蘭組織視為「新共產主義」的表現。
另外,2016年4月2日在日惹(Yogyakarta)Bantul的Survive Garage[5](藝術空間)舉辦的「Lady Fast 2016」[6],活動期間被當地兩個激進伊斯蘭團體──Forum Umat Islam Yogyakarta(FUI,日惹穆斯林論壇)及 Front Jihad Islam(FJI,伊斯蘭吉哈德陣線)──攻堅並強制停辦。諷刺的是,Bantul區的警方也涉入其中。警方的理由是該活動沒得到政府的許可,同時也妨害了社會秩序,然而「Lady Fast」這個以舉辦各種女性議題相關的電影放映及音樂表演活動,已獲得該地區鄰里長官的批准。而更可笑的是,這個活動標示著自由主義,但FUI、FJI卻指控那些參與活動的人都是共產黨員……
在創傷中生長的國家
「我們還沒能在滿月的月光下安居,我們仍在過度的時代中求生。所以,如翔鷹般振翅吧!」蘇卡諾數十年前如此鼓勵著甫獲獨立的印尼人民。不過,自從他與穆罕默德.哈達(Mohammad Hatta)在雅加達宣布印尼獨立以來,71年的光陰過去了,至今印尼人民還未能享受真正的獨立,不只是因為社會上仍有許多因為資本家的貪婪而被邊緣化的窮人,而在1998年改革後的印尼,仍然無法自由地發表言論,就算是藉藝術創作發聲也有其困難。
唉!如果要用薩爾曼.魯西迪在《午夜之子》裡的視角來看現在的印尼,我不知道印尼這個國家創傷已有多巨大了。但是,我知道印尼人仍然可以笑著跟人開玩笑,就像是Pramoedya Ananta Toer在《Larasati》(2000)中所寫道的:「在這個太陽的國度,他連陽光都享受不到!」
因此,如果您在八月有機會拜訪印尼的小城鎮或村落,您將會親眼目睹這個民族多麼歡樂地的迎接著她的獨立紀念日。各種狂歡、競賽、與平民百姓的遊樂。是的,印尼人,再次地就像Pramoedya所言:「深愛著國家、革命,他愛著家鄉,就算瀰漫著腐爛的混著泥巴與自己的屎的氣味。」
就這樣吧。
(作者為華裔印尼人,來自印尼客家族群比例甚高的邦加島(Bangka),自中學開始創作,以小說、詩歌、文學評論見長,主題多描寫邦加島的族群互動與其家族的遷徙,作品散見於、《Kompas》、《Jawa Pos》、《Koran Tempo》、《Horison》、《Jurnal Cerpen Indonesia》等媒體,筆齡超過二十年,現居日惹(Yogyakarta)。湯順利為2016年文化部「翡翠計畫」來台駐村之東南亞作家。)
[1] Salafi(سلفية,薩拉菲主義),為伊斯蘭教遜尼派一種極端保守正統的運動,分為三類,最大的群體為不參與政治的純粹主義者;參與政治的活躍分子;以及為數最少的聖戰者。
[2] Jemaah Tabligh(جماعة التبليغ),為遜尼派一種復興正統的宗教運動,在南亞有為數龐大的追隨者,影響力遍布全球,堪稱是20世紀最具影響力的伊斯蘭教運動。
[3] Tan Malaka,印尼哲學家,生於荷治時期,曾赴歐洲求學,返國後投入革命事業,曾短暫加入印尼共產黨。Tan Malaka是印尼的民族英雄,亦被稱為「被遺忘的國父」。
[4] Belok Kiri Fest.(Turn Left Festival),2016年2月27日至3月5日在雅加達Ismail Marzuki藝術園區舉辦的,首屆以「反制新秩序的宣傳」(Melawan Propaganda Orde Baru)為主題,舉辦相關講座、電影放映、工作坊、書展等活動。「左轉」開幕當天,右翼伊斯蘭社團到場示威抗議,警方亦介入而迫使其停辦所有活動。事後,軍方公開聲明將嚴辦主辦單位,以抑止「共產」重生。
[5] Survive Garage,西元2009年成立於日惹Bantul區的Bugisan,係一個車庫改建的藝術空間。經營者與其社群成員,有許多來自1998年由13個藝文社團為反抗蘇哈托政權所組織成立的「Taring Padi」,Survive Garage延續了當時的關懷農民、工人,關注性別、社會正義的宗旨,在日惹持續以藝術創作介入政治與社會議題。
[6] Lady Fast,係日惹一個關注性別(女性解放、LGBTQ)與相關政治、社會議題的活動,期間舉辦各種工作坊、放映討論、講座、演唱會、展覽與市集。
【原文】
RETAKNYA CITA-CITA KEMERDEKAAN
(Sebuah Potret Indonesia) II
Oleh: Sunlie Thomas Alexander
Ya, inilah akibat dari tersumbatnya kran demokrasi atas nama stabilitas selama lebih dari tiga dasawasa. Boleh jadi konflik-konflik yang terjadi memang berakar pada ketidakadilan hukum dan marjinalisasi masyarakat akibat kebijakan Pemerintah, tetapi dalam prosesnya seringkali ia menyeret isu rasial dan agama sehingga mampu menghimpun kekuatan massa begitu besar yang menyebabkannya berlangsung berkepanjangan.
Konflik antara etnis Madura dan etnis Dayak di Kalimantan sebagai contoh, adalah akibat dari terpinggirnya masyarakat Dayak sebagai suku asli oleh kehadiran etnis Madura yang dinilai agresif dan menguasai sektor perekonomian. Dalam sejumlah penelitian misalnya, terungkap bahwa tidak sedikit kasus pembunuhan orang Dayak (sebagian besar disebabkan oleh aksi premanisme Dayak-Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap oleh aparat penegak hukum. Konflik antara Dayak dan Madura ini sempat terjadi dua kali, yakni di Sanggau Ledo, Kalimantan Barat (Desember 1996-Januari 1997) yang mengakibatkan 600 orang tewas dan di Sampit, Kalimantan Tengah (2001) yang memakan korban 500 jiwa dengan lebih dari 100 ribu warga Madura kehilangan tempat tinggal.
Sementara itu, konflik yang terjadi di Ambon (Desember 1998-Desember 2000) antara umat Islam dan Kristen diperkirakan menelan korban jiwa 8.000-9.000 selama 4 tahun berlangsungnya konflik. Secara kerugian materil, konflik Ambon menghancukan setidaknya 29.000 rumah, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintahan, dan 4 bank. Begitu pula dengan Kerusuhan Poso, Sulawesi Tengah yang melibatkan kelompok Muslim dan Kristen memakan korban jiwa tak kalah banyak. Bahkan sampai kini, angka pasti berapa ribu korban jiwa dalam tiga kali kerusuhan (25-29 Desember 1998, 17-21 April 2000, 16 Mei - 15 Juni 2000) yang terjadi di sana masih sulit untuk dipastikan.
Pembantaian demi pembantaian sadis ini memang nyaris tidak masuk akal bisa terjadi di abad ke-21 (dan sebagian besar dilakukan atas nama agama). Richard Lloyd Parry, jurnalis media Inggris The Times, pernah menggambarkan perasaannya dalam buku In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos (2005) tatkala melihat sebuah foto Kerusuhan Sanggau Ledo: "Kepala itu tergeletak di tanah... Lebih terasa absurd daripada kejam." Demikian tulisnya. Di sebuah kampung Madura, Suka Ramai, saat Kerusuhan Sampit 2001 berlangsung, Parry bahkan sempat ditawari makan sate daging manusia. Saya sendiri pernah menyaksikan foto-foto berisi kepala-kepala terpenggal hasil bidikan teman saya, Jamrin Abubakar, seorang jurnalis yang mengabadikan pembantaian di Poso…
Sebelumnya, ketika mahasiswa sedang berdemonstrasi menuntun pengunduran diri Soeharto dari kursi kepresidenan, sebetulnya sudah terjadi kerusuhan besar yang memakan korban jiwa kurang lebih seribu orang di Jakarta dan sejumlah kota besar Indonesia lainnya seperti Solo, Palembang, dan Medan. Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa—terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Syahdan, terdapat sekitar ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Akibatnya, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa pergi meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah pimpinan Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam kerusuhan tersebut digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis. Dan militer Indonesia (terutama Kopassus, pasukan elit Angkatan Darat) disinyalir kuat ikut terlibat.
***
AH, barangkali judul buku In the Time of Madness yang dipilih Richard Lloyd Parry untuk mengambarkan kondisi Indonesia memang tidak berlebihan. Indonesia pasca reformasi setelah jatuhnya Soeharto mungkin boleh diibaratkan “keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya”. Masyarakat Indonesia seolah-olah sedang digiring masuk ke dalam kegilaan baru selepas masa kediktatoran militer Soeharto yang mencekam. Sampai sekarang kekerasan demi kekerasan atas nama agama contohnya, tak kunjung berhenti terjadi.
Selain munculnya organisasi Islam garis keras lokal seperti Front Pembela Islam (FPI)—yang pembentukannya tak terlepas dari permainan para elit politik dan militer Orde Baru untuk menghadapi gerakan mahasiswa dan aktivis kiri, muncul pula beragam kelompok Islam radikal yang “transnasional”, sebut saja misalnya Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) yang pernah dipimpin oleh Abu Bakar Basyir di Solo, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)—sebuah partai politik berideologi Islam radikal yang bercita-cita mengembalikan kejayaan Khilafah Islamiyah di dunia, Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang juga didirikan oleh Abu Bakar Basyir, lalu baru-baru ini juga terbentuk Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Abu Wardah Santoso yang menjalin hubungan dengan Islamic State-ISIS di Sulawesi Tengah.
Di luar daftar ini, masih ada beberapa kelompok lain yang bisa pula digolongkan ke dalam organisasi Islam ekstemis, kendati dalam praktek, seperti halnya HTI mereka tidak melakukan kekerasan fisik. Mereka antara lain Salafi dan Jemaah Tabligh, termasuk di sini Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebuah partai politik yang memiliki suara cukup dominan dalam parlemen Indonesia. Partai inilah, lewat kader-kadernya yang menduduki berbagai posisi strategis dalam struktur Pemerintahan RI, berusaha menerapkan kebijakan Peraturan Daerah berbasis formalisasi syariat Islam secara kaku. Tujuan mereka adalah menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.
Apabila kelompok Islam radikal lokal seperti FPI merupakan preman berjubah agama, kelompok-kelompok transnasional yang tersebar di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ajaran Wahabbi. Yakni sebuah gerakan Islam militan yang didirikan oleh Muhammad Ibnu Abdul di Arab pada abad ke-18 dengan tujuan mengembalikan kemurniaan Islam. Gerakan ini menggugat habis-habisan interpretasi adat dan menekankan perhatian pada inti doktrin Islam. Mereka selalu menghendaki penekanan pada pentingnya bahasa Arab dalam menghadapi penyimpangan-penyimpangan lokal yang mereka pandang sebagai bid’ah dan mengklaim diri mereka sebagai satu-satunya kelompok penafsir Islam yang paling benar.
Disamping anti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (yang disingkat oleh mereka sebagai “sepilis” [nama penyakit kelamin]) dan anti komunisme, kelompok-kelompok radikal ini juga anti Pancasila dan demokrasi (yang mereka anggap produk kafir Barat). Bahkan sejumlah kelompok dengan tegas menyatakan menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan dalam hal ini, Pemerintah RI sama sekali tidak bertaring menghadapi mereka sehingga pembiaran demi pembiaran pun terus terjadi.
Tidak hanya sekadar mengeluarkan fatwa kafir kepada siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka, termasuk sesama umat Islam, mereka bahkan tidak segan-segan menggerakkan kekuatan massa yang mereka miliki untuk melakukan demontrasi yang kebanyakan berujung dengan aksi kekerasan. Mereka juga kerap memaksa pembubaran berbagai acara kesenian dan diskusi (termasuk di lingkungan akademis), terutama acara-acara yang menurut mereka berbau liberalisme dan komunisme. Dengan kata lain mereka memanfaatkan alam demokrasi untuk membungkam demokrasi itu sendiri.
Inilah yang terjadi ketika belum lama ini misalnya FPI mengancam akan membubarkan pentas monolog tentang Tan Malaka yang berjudul Saya Rusa Berbulu Merah karya penyair Ahda Imran dengan sutradara Wawan Sofyan di pusat kebudayaan Prancis IFI, Bandung, 23-24 Maret 2016, dengan alasan pentas tersebut hendak membangkitkan komunisme. Padahal pementasan yang berlangsung sekitar 80 menit itu hanyalah mengangkat kehidupan pahlawan nasional Tan Malaka (yang juga mantan ketua PKI) pada periode 1945-1948 ketika Tan memutuskan kembali bergerilya dan berjuang bersama rakyat setelah keluar penjara. Beruntung, atas jaminan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, pertunjukan pada tanggal 24 Maret akhirnya tetap bisa dilaksanakan.
Demikian pula halnya festival seni bertajuk Belok Kiri Fest. Acara yang akan digelar di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta selama seminggu pada Februari 2016 dengan latar belakang kesadaran kritis akan pentingnya wacana membongkar kembali kebenaran sejarah seputar peristiwa 65 ini juga dituding oleh militer dan sejumlah organisasi Islam radikal sebagai gerakan komunis gaya baru.
Sementara itu, pembubaran acara Lady Fast 2016 yang digelar di ruang komunitas seni Survive Garage, Bugisan, Bantul, Yogyakarta pada 2 April 2016 lalu selain dilakukan oleh sejumlah kelompok esktrimis lokal yakni Forum Umat Islam (FUI) Yogyakarta dan Front Jihad Islam (FJI), ironisnya juga melibatkan aparat kepolisian dari Polsek Bantul. Alasan yang dikemukan oleh pihak kepolisian adalah Lady Fast 2016 tidak memiliki izin dan menganggu kenyamanan masyarakat. Padahal acara yang mencakup isu-isu perempuan, lokakarya pemuatan film dan hiburan musik itu telah mendapatkan persetujuan dari Rukun Tetangga (RT) setempat. Dan lucunya lagi, meskipun menganggap acara itu mengakomodasi liberalisme, FUI dan FJI juga melontarkan tuduhan bahwa pesertanya adalah orang komunis…
***
"KITA belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat elang rajawali.”demikian kata Soekarno menyemangati bangsanya yang baru merdeka puluhan tahun silam. Namun, walaupun 71 tahun sudah waktu berlalu sejak ia dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta, toh sampai hari ini masih banyak rakyat Indonesia belum bisa menikmati kemerdekaannya secara sungguh-sungguh. Bukan saja lantaran masih begitu banyak orang Indonesia yang miskin dan tersisihkan oleh karakteristik pembangunan rakus ala kapitalis, tetapi setelah reformasi terjadi di Indonesia pada tahun 1998 pun, mereka masih belum bisa sepenuhnya bebas untuk berbicara, bahkan sekadar mengekspresikan diri lewat kesenian.
Ah, apabila harus menggunakan perspektif seorang Salman Rushdie dalam novel Midnight’s Children untuk membaca Indonesia hari ini, saya tidak tahu seberapa besar luka menganga dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya saja, saya tahu kalau orang Indonesia selalu masih bisa tertawa dan bercanda, kendati tahu bahwa seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam novel Larasati: “Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!”.
Karena itulah, jika Anda bertandang ke kota-kota kecil dan desa-desa Indonesia pada bulan Agustus, niscaya akan dapat Anda saksikan betapa bahagianya bangsa ini menyambut pesta peringatan ulang tahun kemerdekaannya. Dengan berbagai karnaval, lomba, dan permainan ala rakyat jelata. Ya, bangsa Indonesia, sekali lagi kata Pramoedya: “[…] sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri.”
Begitulah.
分享圖文請註明出處,未經本站同意不得轉載
瀏覽次數:4411