圖片來源:Shutterstock

[編按]本系列文章為第四屆移民工文學獎得獎作品,作者皆為在台灣工作的東南亞移工,包含泰國、菲律賓、印尼、越南等國家,以母語書寫、再翻譯為中文,並經作家、學者、社運工作者、文字工作者、影像工作者評選通過。這些作品中有的為真實經歷、有的為虛構文學,但都反映了東南亞移民工在台灣的真實情感與創作。

「歡迎來到我們家。我是謝太太。我需要一位看護,是因為我沒有腿。」一位中年女人面無表情地迎接Lili。Lili感到訝異,不知所措。「你看。」她接著說,然後掀開蓋住腳的毯子。Lili吸了一口氣。

「妳嚇到了嗎?沒看過斷腳嗎?傷口還是紅色的,可能不會好了。」謝太太又說道,並向灰色窗簾的窗外望去。Lili感到反胃,就像要吐的感覺。

當Lili被吩咐要把她的後背包放在謝太太的房間角落時,Lili肚子裡的東西好像要衝到她的喉嚨。Lili的胸口被憤怒充滿,隨時準備在開口時化為咒罵。她感到生氣,因為現實與預期不符。

這位斷腳的太太成為Lili踏上寶島後,一個月之內的第三個雇主。一開始所幻想能得到如她所願的雇主,逐漸化為一幅模糊的畫。Lili簽了工作協定,聲明會照顧一位在拐杖的幫助下仍然可以走路的奶奶。但事實上,Lili的第一位雇主,要照顧的是一位爺爺還有一位奶奶,兩人都無法走路了。Lili感到受傷,像是被捉弄、無法接受,因為這是很重的工作負擔。Lili請仲介幫她找新的雇主,要按照她的工作協定。身為曾經在海外工作過的移工,她無法接受這種不公平的待遇。

經過與仲介公司漫長的辯論,Lili後來換了第二個雇主。但很無奈的,Lili的第二任雇主非常窮困。貧窮到Lili需要裝雨水來滿足煮飯的需求。嚴格來說,Lili不太需要照顧雇主,因為這兩位住在衛生堪慮、地處偏僻環境的爺爺奶奶,都還很健康,並不需要看護的幫忙。但上帝呀,Lili無法相信在這麼富有的國家還有這麼一對老夫妻,為了吃上一口飯,還要在鼻屎大的田地上種稻米?沒有子女又被孤立。Lili為他們感到可憐,同時也可憐她自己的命運,會找到這麼窮的雇主。

雖然要禁食,但有時食物真的太少。身處雇主家的簡陋環境,Lili試著堅強。Lili希望他們兩人的狀況能夠盡快好轉,比如爺爺可以在耕田的時候挖到一塊黃金。或者有沒有可能,爺爺和奶奶其實存了很多錢和金銀財寶,只是因為他們小氣,不喜歡給Lili看到他們有多少財產。說不定雇主爺爺奶奶是在假裝貧窮呢,誰知道?

雇主奶奶疼愛Lili。從她有限的食物中,她會先關心Lili有沒有吃飽。她很感激Lili願意與他們住,若他們突然掛了,至少Lili還可以是個證人。但Lili並沒有因為雇主奶奶的關心感到快樂,她對他們是否能支付她薪水感到懷疑。但Lili總是很有耐心的用幻想安慰自己。直到有一天,Lili洗碗盤的時候,爺爺故意摸了她的屁股,邪惡的笑著,露出他的假牙。Lili立刻下定決心不再待下去。直接打包行李,打電話給仲介公司。

現在,Lili面對著一位年輕卻斷腳的雇主。她原先多少知道她將照顧的人是一位沒有辦法走路的病人。但Lili萬萬沒想到,這意味著雇主完全沒有腿。謝太太的膝蓋發紅,似乎滑滑的。她看來也不像樂觀、甚至可以說是個悲觀的人。會不會她還藏著那雙被截肢的腿,就在這房子的某個角落?

「天意捉弄人啊。我的命真是非常差,或許我上輩子犯了罪吧。我會截肢是因為被摩托車撞。我的兩隻腳都斷了,當然需要截肢。」謝太太自言自語,沒有看著Lili。但她好像會讀Lili的心,該不會看出Lili懷疑她藏了那雙斷腿吧。「妳幾歲?」她還是沒有看Lili,自顧自地接著說。

「28歲。」Lili回答,努力不讓自己的聲音顫抖。

「妳的資料上寫妳還沒結婚。對嗎?」

「是的,太太。」

「沒關係。妳會說英文然後在香港工作過?」

「是的,太太。」

 但其實Lili想問,為什麼問她是否結了婚,然後又說「沒關係」。但Lili選擇沉默。

「妳會再換雇主嗎?」

「不會,太太。」

「真的?妳確定?」

「是的,太太。」

「好吧。妳去洗澡然後吃晚飯吧。等等妳來幫我。我想我老公已經煮好給我們的晚餐了。」

Lili聽話。在廁所內,Lili吐了,想到謝太太那雙斷了的腳,既紅又滑的腳。

Lili好像理解到,關於她去國外打拚的命運,這次是最糟的。Lili之前的工作狀態都沒有這麼糟糕。當初千辛萬苦的獲得祖國母親的允許後,Lili才得以再次出國工作。因為母親不希望她的女兒忽略婚姻。母親認為Lili是時候該開始準備家庭生活了,但Lili覺得還沒為未來存夠錢。父親辭世後,Lili身為獨生女,需要為母親的老年生活做好準備。Lili至少需要再出國工作2年,幸好上帝賜予母親健康的身體。

Lili很習慣外地的環境,卻對自己的家鄉感到恐懼,她對故鄉有陌生感。Lili在印尼找不到工作,也不太喜歡鄉下的生活節奏,這讓她毫無動力。Lili比較喜歡活在不在意她私事的環境裡,這讓她感到比較舒適,她喜歡待在以工作能力衡量一個人的環境中,而不是看這個人有多麼努力的做禮拜。對,她喜歡認識外地。經歷過之前與香港、台灣雇主的互動後,再回想鄉下居民們的行徑,讓她覺得好像夾在兩種不同的價值觀之中。

這個狀況讓Lili再次下定決心出國打拚,同時希望可以減少母親對她成家的期待。Lili想要自己一個人,她只需要2年,來讓她準備好面對祖國的生活。基於這些原因,她一定要先在台灣生活,不管發生什麼事。Lili要帶著足夠給自己還有母親生活的金錢回家,還有面對故鄉、夾在其中生活的勇氣。

「已經一個禮拜了,妳已經告訴妳的家人了嗎,Li?」謝太太問著正在幫她按摩腳的Lili,每次碰到她滑滑的腳,Lili心裡就滑了一跤。

「還沒,太太。」

「為什麼?」

「如果我打電話,我媽媽一定會哭。」

「如果妳不打電話,妳媽媽會開心嗎?」

Lili沒有回應,她偷偷觀察謝太太的表情。現在她看起來沒有像第一次見到的時候那麼悲觀。

「Lili,我喜歡妳。我希望妳能在這裡待久一點。我喜歡妳,是因為妳沒有對我感到厭惡。」謝太太溫柔地說,好像在求Lili似的。「妳的母親一定是好人,因為妳也是個好人。妳母親幾歲了呀?」

「45歲,太太。這個月剛滿45。明天我會打電話,太太。現在印尼已經晚上10點,她可能睡了。」謝太太沉默。Lili拉棉被蓋住她的身體。

謝太太的身形嬌小,皮膚白,小眼睛,臉型削瘦,帶著眼鏡。在車禍奪走她的雙腳前,謝太太是一間小學的國文老師。她只有一個女兒,名叫謝明琳,中學二年級。

Lili與明琳沒什麼機會說話。她是一位看似悲觀的安靜女孩。Lili從未看過她的笑容,除了她用手機講悄悄話的時候。她也從來沒有與她媽媽一起並肩坐過,除非在匆促的晚餐時間。她一天的開始,就是穿著制服走出房門、在餐桌上拿零用錢,開門就走。下午5點她會出現在門口,脫下鞋子亂放在鞋架前,快步走進房間又關上門。7點整她會準時從房間走出來,坐在餐桌上,陰沉的吃飯,喝口白開水,然後又回她的房間。每天都這樣。

Lili從來不知道明琳何時把髒衣服放入洗衣機,也不知她何時寫下與父親的對話貼在冰箱前。明琳好像覺得這幾張紙已足夠跟她父親溝通,謝先生也如此認為。

謝先生是一位計程車司機。他幾乎不會待在家裡,就算是禮拜天。所以他對Lili強調,在他們家工作期間不能要求放假。Lili不曾抱怨沒有假期的狀況,因為她也需要努力賺錢才能存更多錢。每天,謝先生會在吃完早餐後出發,在中午和晚上回來。有時回來會帶他在路上買的食物,有時會帶烹煮的食材。謝太太從未抱怨那些食物,也從未抱怨任何一件事。她幾乎沒有向先生抱怨過任何事,他們沒有講過很長的對話,也沒有哈哈大笑過。

Lili變成不必露出任何表情的觀眾。這讓Lili認為,如果聽到母親在電話另一端哭泣而跟著哭得稀哩嘩啦,會顯露過度的情感。她不想在雇主家透露太多情緒,因此越來越不常打給母親。她向自己保證,母親不會有事,就像她離開的時候一樣。

下午剛抵達宜蘭,謝太太坐在Lili推的輪椅上,看起來很煩躁。這是Lili在謝家工作的第二年,夏日令人滿身大汗。Lili時常感謝的祈禱,她快結束2年的合約了,可以馬上見到母親一解思念。那天,太太到醫院定期看診,本該來接他們的謝先生卻遲到了3個小時。太太已經失去力氣還有耐性。她不斷碎念,抱怨自己悲哀的命運,抱怨她的腳、抱怨無法過正常人的生活。這種事是謝太太的專長,心情陰晴不定。這次Lili感到非常的疲倦,但她還是要集中剩下的力氣來安撫太太。

當他們三人回到屋內後,謝太太仍然碎念著謝先生的遲到。謝先生感到無奈,因為他無法控制讓他遲到的塞車,於是他也不輸謝太太的丟著各種家具,大聲喊叫,用力甩門。在外面的吵鬧中,Lili安靜地待在謝太太房間的角落,Lili想聽母親的聲音。

那一晚,謝太太和謝先生都感到疲倦,兩人安靜下來。先生開著他的計程車離去,太太在安靜中沉默。Lili詢問是否能在客廳裡打電話給在家鄉的母親。謝太太要求陪伴她,她的情緒已穩定。Lili聽話的推著謝太太靠近電話桌。

幾秒後,Lili倒在謝太太的輪椅旁。謝太太著急地喊著她,大力搖晃她的身體。

「Lili!Lili!怎麼了?Lili,妳怎麼了?妳母親發生了什麼事?Lili!Lili!」

Lili全身無力,手支撐在謝太太斷了的腿、滑滑的腿上。

「太太,我是為了誰而活!我為了誰來這裡當太太的代步機!我,太太……我成為太太的代步機……我為什麼讓我母親在浴室裡滑倒,孤獨地死去?我為什麼成為媽媽無用的女兒?喔,太太……喔,母親……喔,讓我死了吧太太……!」

Lili的眼淚如決堤般湧出。她的身體嚴重顫抖著,眼淚瘋狂地簌簌流下。謝太太不斷大喊,試著抱起Lili的身體。但Lili不想待在謝太太的懷抱裡。她身體裡的骨頭好像有千斤重,想貼在謝家的地板上。

啪!!!

明琳從房間走出來,插著腰。她不喜歡客廳裡的吵鬧。明琳從來不知道她父母之間發生的任何一件事。Lili甚至認為對明琳來說,她的存在從來沒有任何意義。

然後Lili突然起身,靠近明琳,拉著她綁馬尾的頭髮,用力地拉,看著她忍痛的表情,把她撞上牆。一次又一次。

謝太太吶喊。Lili又撞一次。

謝太太試著伸手抓住。Lili又撞一次。

謝太太喊著Lili的名字。Lili又撞一次。

謝太太喊著明琳的名字。Lili又拉著她的頭撞一次。

謝太太昏了過去,明琳倒下,Lili坐在地上,到處都是血。

(作者為印尼籍移工)

     

作者自述:

我的名字是Duris Prismawati,Riris Siriu是我的筆名。10月10日出生於勿里達,曾在台灣擔任5年半的看護。

自從去年10月我回到印尼後,就開始做線上銷售。〈代步機〉的故事是我在台灣的部份生命故事。我希望透過這個故事,勉勵自己經常保持耐心,並對我在這世上所擁有的一切保持感恩的心。我的作品獲獎,讓我更有信心,也鼓勵我繼續寫作。對我來說,寫作是一種樂趣。

本文為雙語呈現,以下為原文:

Kaki Pengganti

Riris Sirius / Indonesia / tenaga kerja asing

“Selamat datang di rumah kami. Saya Nyonya Tse. Saya membutuhkan perawat karena saya tidak punya kaki.” Seorang perempuan wanita paruh baya menyambut Lili dengan raut wajah yang sangat datar. Lili tertegun, bingung hendak mengatakan apa. “Lihatlah,” ujarnya lagi, menyingkapkan selimut yang menutupi kakinya. Lili terkesiap.

“Kamu terkejut? Kamu tidak pernah melihat kaki buntung? Lukanya masih merah, mungkin tidak akan sembuh.” ucap Nyonya Tse lagi, memandang ke arah jendela bertirai warna kelabu. Perut Lili terasa mual seperti mau muntah.

Ketika kemudian Lili diperintahkan untuk meletakkan tas ransel di pojok ruangan Nyonya Tse, isi di dalam perut Lili seperti memberontak hingga sampai di tenggorokan. Dada Lili seperti sesak oleh rasa marah yang siap kapan saja meluncur menjadi sumpah serapah begitu Lili membuka mulut. Marah pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya.

Nyonya buntung ini akan jadi majikan Lili yang ketiga dalam kurun waktu kurang dalam sebulan setelah kaki Lili menginjak negeri Formosa. Mimpi indah mendapatkan majikan yang seperti dia harapkan ketika berada di penampungan sudah berubah menjadi lukisan yang buram. Lili menandatangani job order di penampungan yang menyatakan bahwa tugas Lili akan merawat seorang nenek yang masih mampu berjalan dengan bantuan tongkat, ternyata bohong belaka. Faktanya, di majikan pertama, Lili harus merawat seorang kakek dan nenek dalam kondisi lumpuh kedua-duanya. Lili terluka, merasa dipermainkan dan tidak terima dengan pekerjaan yang dia rasakan sangat berat. Lili meminta agen untuk mencarikanya majikan yang baru sesuai dengan job order yang dia miliki. Lili berpikir sebagai TKW yang pernah bekerja di Taiwan dan mampu berbicara bahasa Mandarin, dia tidak akan terima jika diperlakukan tidak adil dan semena-mena.

Setelah debat panjang dengan agen, Lili kemudian mendapatkan majikan yang kedua. Tapi apa lacur? Lili mendapatkan majikan yang sangat miskin. Begitu miskinnya hingga Lili harus menampung air hujan untuk keperluan memasak makanan. Di majikan ini Lili tidak harus merawat siapa-siapa, nenek dan kakek yang tinggal di rumah dengan sanitasi buruk dan berlokasi jauh dari kota, masih cukup sehat dan tidak membutuhkan asistensi seorang perawat. Tapi ya Tuhan, Lili bahkan tidak percaya bahwa di negara yang kondang kaya ini masih ada sepasang suami istri tua yang untuk makan saja harus menanam sendiri di ladangnya yang seupil itu? Tidak beranak dan terpinggirkan. Kesepian, miskin dan kesusahan untuk makan. Lili merasa kasihan kepada mereka berdua, sekaligus kasihan kepada nasib jeleknya sendiri mendapatkan majikan sepapa mereka.

Meskipun harus puasa, kadang karena memang hanya ada sedikit makanan, kadang karena merasa bergidik dengan kondisi rumah majikan, Lili mencoba bertahan. Lili berharap kondisi keduanya akan lekas berubah, seperti menemukan sebongkah emas dari tanah yang dicangkuli kakek majikan misalnya, atau siapa tahu kakek dan nenek ini sebenarnya menyimpan tabungan dan atau harta karun yang banyak yang karena sifat kedekut mereka tidak suka menunjukan kepada Lili berapa banyak harta yang ia miliki saat itu. Siapa tahu nenek dan kakek majikan ini sedang berpura-pura miskin. Siapa yang tahu?

Nenek majikan menyayangi Lili. Dari sedikit makanan yang ada, dia lebih dulu memperhatikan makanan Lili. Dia bersyukur Lili mau tinggal dengan mereka yang artinya bila mereka sampai meninggal kapan saja, minimal ada Lili sebagai saksinya. Lili tidak merasa lebih baik karena perhatian nenek majikan, ia kalut oleh pikiran jangan-jangan mereka tidak akan mampu membayar gajinya? Tapi Lili bersabar dan menghibur diri dengan hayalan. Sampai pada suatu hari, ketika Lili sedang mencuci piring kakek dengan sengaja menyolek bokongnya lalu terkikik meringis memperlihatkan gigi palsunya. Saat itu juga Lili tidak sudi berada di dalam rumah itu. Lili berkemas dan lalu menelepon agen.

Lalu sekarang Lili berhadapan dengan seorang yang masih muda dan buntung. Lili memang sedikit banyak sudah diberitahu bahwa yang akan dia rawat adalah seorang pasien yang tidak bisa berjalan. Tapi Lili tidak berpikir bahwa itu berarti tidak memiliki kaki sama sekali. Lutut Nyonya Tse kemerahan dan seperti licin. Nyonya Tse juga seorang perempuan yang terlihat getir dan muram. Jangan-jangan dia masih menyimpan potongan kakinya di suatu wadah di rumah ini?

“Nasib memang tidak bisa saya rancang. Nasib saya buruk sekali, mungkin perbuatan saya di masa lalu juga buruk. Saya buntung karena ditabrak sepeda motor. Kedua kaki saya remuk sebelum kemudian harus dipotong.” gumam Nyonya Tse. Lagi-lagi bicara tanpa melihat Lili. Tapi, hei dia bisa membaca pikiran Lili. Jangan-jangan dia tahu Lili sedang mencurigainya menyimpan potongan kedua kakinya. “Berapa usiamu?” katanya tanpa menoleh Lili.

“Dua puluh delapan.” sahut Lili, sekuat tenaga menahan suara agar tidak terdengar gemetar.

“Di biodatamu tertulis kamu belum menikah. Betul?”

“Iya, Nyonya.”

“Tidak mengapa. Kamu bisa berhasa Inggris dan pernah bekerja di Hong Kong?”

“Betul, Nyonya.” Tapi sebenarnya Lili ingin balik bertanya kenapa dia bilang “tidak mengapa” setelah menanyakan soal Lili sudah menikah atau belum. Tapi Lili memilih diam.

“Apakah kamu akan berpindah majikan lagi?”

“Tidak, Nyonya.”

“Sungguh? Kamu yakin?”

“Iya, Nyonya.”

“Baiklah. Kamu mandi, dan makan malamlah. Setelah itu kamu bantu saya. Saya kira suami saya sudah selesai memasak makan malam kita.”

Lili menurut. Di kamar mandi, Lili muntah saat membayangkan kaki Nyonya Tse yang buntung, kemerahan dan licin.

*****

Semakin hari Lili seperti harus memahami bahwa untuk peruntungannya bekerja ke luar negeri, kali ini adalah yang terburuk. Kondisi kerja Lili sebelumnya tidak pernah seperti keberangkatannya kali ini. Setelah susah payah Lili mendapatkan restu ibunda di Tanah Air untuk sekali lagi mengijinkan Lili pergi merantau, restu seperti sulit Lili dapatkan dari alam. Ibu tidak ingin anak perempuannya mengabaikan pernikahan. Ibu merasa Lili sudah waktunya berumah tangga. Tapi Lili merasa kurang menyimpan pundi-pundi simpanan untuk masa depan. Setelah kepergian bapak untuk selama-lamanya, sebagai anak tunggal Lili juga harus mempersiapkan masa tua ibunya. Lili harus pergi lagi setidaknya dua tahun, senyampang ibunya masih diberi sehat oleh Yang Maha Mengatur Kesehatan.

Terbiasa dengan kondisi di perantauan dan gagap dengan lingkungan di kampung halaman membuat Lili merasa asing di rumah sendiri. Lili tidak bisa menemukan pekerjaan di Indonesia. Lili kurang menyukai ritme kehidupan orang-orang di kampung yang dia rasa tidak juga berubah maju. Lili lebih menyukai berada di antara orang-orang yang tidak mempersoalkan hal-hal pribadinya. Lili merasa lebih nyaman berada di lingkungan yang mengukur prestasi manusia dari apa yang mampu dikerjakan, bukan dari semata karena tingkat ketekunannya beribadah. Yah, mengenal dunia luar dengan bergaul dengan keluarga majikan yang heterogen di Hong Kong dan Taiwan dahulu telah membuatnya berpikir apa yang dilakukan masyarakatnya di kampung membuatnya merasa terjepit di tengah-tengah.

Kondisi ini pula yang membuat Lili membuat keputusan untuk sekali lagi merantau, sembari berharap hal itu sekaligus bisa meredam seruan ibu untuk memikirkan persoalan berumah tangga. Lili harus membiarkannya sendirian lagi. Lili hanya akan perlu dua tahun sampai merasa benar-benar siap mengarungi hidup di Tanah Air. Alasan-alasan ini yang membuatnya harus bertahan hidup di Taiwan, bagaimanapun keadaannya. Lili harus pulang dengan pundi-pundi uang yang cukup untuk Lili dan ibu, juga keberanian untuk berada dalam jepitan lingkungan hidup di kampung di Blitar sana.

“Sudah satu minggu, kamu sudah mengabari keluargamu, Li?” Nyonya Tse bertanya ketika Lili sedang memijit kakinya, hatinya berdesir setiap kali dia harus menyenggol lututnya yang licin.

“Belum, Nyonya.”

“Kenapa?”

“Kalau saya telepon, pasti ibu saya menangis.”

“Kalau kamu tidak telepon, ibu kamu akan senang?”

Lili tidak menyahut, dia hanya memperhatikan raut wajah Nyonya Tse. Sekarang dia terlihat tidak semuram ketika Lili pertama datang.

“Lili, saya menyukai kamu. Saya mau kamu kerasan di sini. Saya suka karena kamu tidak jijik dengan keadaan saya.” Nyonya Tse berkata demikian dengan lembut, sepertinya ia sedang memohon kepada Lili. “Ibumu pasti orang yang baik karena kamu juga baik. Berapa usia ibumu?”

“Empat puluh lima, Nyonya. Bulan ini genap empat puluh lima. Besok saja saya telepon, Nyonya. Sekarang di Indonesia sudah pukul sepuluh malam, mungkin beliau sudah tidur.” Nyonya Tse diam saja. Lili menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Nyonya Tse memiliki tubuh yang kecil. Perempuan berkulit putih, bermata sipit dan berwajah tirus, kurus dan bermata minus. Sebelum kecelakaan merenggut kakinya, Nyonya Tse adalah seorang guru bahasa Mandarin di sebuah sekolah dasar. Anaknya seorang saja perempuan bernama Tse Ming Lin, duduk di kelas dua sekolah menengah.

Lili tidak banyak berkomunikasi dengan Lin. Ia seorang gadis pendiam cenderung pemurung. Lili tidak pernah melihatnya tersenyum kecuali saat berbicara bisik-bisik di telepon. Ia juga tidak pernah duduk bersama ibunya kecuali di saat makan malam yang terburu-buru. Harinya dimulai dari keluar kamar dalam kondisi berseragam, mengambil uang jatah saku di meja makan, membuka pintu dan pergi. Lalu di pukul lima sore ia akan muncul di pintu, membuka sepatu untuk ditaruh sembarangan di depan rak, melangkah cepat-cepat masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia akan keluar kamar pada pukul tujuh tepat, duduk di meja makan. Makan dengan muram, minum air putih dan kembali ke kamarnya lagi. Begitu saja setiap hari.

Lili tidak pernah tahu kapan Ming Lin menaruh baju-baju kotor di dalam mesian cuci, juga tidak menyadari kapan ia menempel tulisan-tulisan berisi dialog dirinya dan ayahnya di pintu kulkas. Ming Lin sepertinya merasa cukup berbicara dengan ayahnya di kertas-kertas itu, begitu juga dengan Tuan Tse.

Tuan Tse adalah seorang sopir taksi. Ia hampir tidak pernah di rumah dalam waktu lama. Bahkan di hari Minggu sekalipun. Hal ini pula yang ditekankannya pada Lili bahwa oleh karenanya Lili tidak bisa menuntut hari libur selama masa kontrak kerja di keluarga ini. Lili tidak mengeluhkan ketiadaan hari libur ini, toh Lili harus menabung sebanyak-banyaknya agar bisa lebih banyak mengumpulkan uang. Tuan Tse berangkat pagi setelah selesai menyiapkan sarapan, kembali pada siang hari dan sore hari. Saat kembali itu kadang Tuan membawa makanan yang dia beli di perjalanan, kadang dia membawa bahan makanan untuk di masak di rumah. Nyonya Tse tidak pernah mengeluhkan makanan-makanan itu. Nyonya Tse tidak pernah mengeluhkan apa-apa. Nyonya dan Tuan hampir tidak pernah mengeluhkan apa-apa, mereka jarang terlibat pembicaraan yang panjang, juga tidak pernah tertawa berderai-derai. Lili menjadi penonton yang tidak perlu menluapkan emosi karenanya. Hal ini pula yang membuat Lili kemudian berpikir bahwa ikut menangis tersedu-sedu karena mendengarkan tangisan ibu di ujung telepon yang menginginkanya segera pulang menjadi satu luapan emosi yang dilebih-lebihkan. Tak ingin mengumbar emosi di rumah majikan, Lili jadi semakin jarang menelpon ibu. Lili meyakinkan dirinya sendiri, ibunya selalu baik-baik saja, seperti yang sudah-sudah saat dia tinggalkan.

*****

Senja baru turun di Yilan County, duduk di kursi roda didorong oleh Lili yang berkeringat, Nyonya Tse tampak kesal. Musim panas seperti garang sekali di tahun kedua Lili bekerja di keluarga Tse (Lili sering menyisipkan doa syukur karena sebentar lagi dia akan menyelesaikan kontrak dua tahunnya dan segera bertemu ibu, meleburkan rindu). Sekali itu, Tuan Tse terlambat tiga jam menjemput Nyonya dari kunjungan rutinnya di rumah sakit. Nyonya sudah kehabisan energi dan kesabaran. Ia mengomel merutuki nasibnya yang malang. Merutuki kaki dan hidupnya yang tidak bisa apa-apa tanpa orang lain. Hal demikian memang keahlian Nyonya Tse, sering berubah mood emosi dengan tak terduga. Kali ini Lili merasa lelah yang luar biasa, masih saja dia harus bersusah payah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menenangkan Nyonya.

Ketika akhirnya mereka bertiga masuk rumah, Nyonya Tse masih mengomel tidak karuan terhadap keterlambatan Tuan Tse. Tuan Tse yang merasa tidak berdaya mengatasi macet dijalan yang menyebabkannya terlambat menjemput Nyonya pun, tak kalah hebat menandingi omelan Nyonya dengan lemparan perabotan, teriakan dan bantingan-bantingan pintu. Di tengah hiruk, Lili diam saja di pojok kamar Nyonya Tse, Lili ingin mendengar suara ibu.

Malam itu, setelah Nyonya dan Tuan Tse kelelahan keduanya lalu terdiam. Tuan pergi dengan taksinya. Nyonya diam terpekur. Lili meminta ijin ke ruang keluarga untuk menelepon ibunya di kampung. Nyonya Tse minta untuk menyertainya, emosinya sudah tenang kembali. Lili menurut dan mendorong Nyonya Tse mendekati meja telepon.

Beberapa detik berlalu, tiba-tiba Lili terkulai di samping kursi roda Nyonya Tse. Nyonya Tse yang panik memanggil-manggilnya, mengguncang tubuhnya dengan hebat.

“Lili! Lili! Ada apa?! Lili, kamu kenapa? Apa yang terjadi pada ibumu?! Lili?! Lili?!”

Lili menggelesot, berpegangan pada ujung kaki Nyonya Tsu yang buntung dan licin. “Nyonya, untuk siapa saya hidup?! Untuk siapa saya di sini menjadi kaki pengganti untuk Nyonya?! Saya, Nyonya… saya menjadi kaki pengganti untuk Nyonya… Untuk apa saya membuat ibu saya terjerembab di kamar mandi dan mati sendirian? Mengapa saya menjadi anak yang tidak berguna untuk ibu saya? Oh, Nyonya… Oh, Ibu… Oh, matikan saja saya Nyonya…!” tangis Lili pecah seperti air bah. Tubuhnya terguncang hebat, air matanya berderai-derai. Nyonya Tse berteriak sambil berupaya meraih badan Lili untuk memeluknya. Lili tidak menurut untuk bisa berada dipelukan Nyonya Tse. Tulang badannya seperti berat dan ingin menempel pada lantai rumah keluarga Tse.

Braaak!!!

Ming Lin muncul dari dalam kamar berkacak pinggang. Tidak menyukai kegaduhan yang ada di ruang tengah. Ming Lin memang tidak pernah tahu apa-apa yang terjadi pada ayah dan ibunya. Lili bahkan merasa, bagi Ming Lin kehadiran Lili di rumah itu tidak pernah ada artinya.

Lalu tiba-tiba Lili berdiri, mendekati Ming Lin, menarik rambutnya yang diikat ekor kuda, menariknya kuat dan membenturkan kepala yang wajahnya meringis kesakitan itu ke tembok rumah. Berkali-kali.

Nyonya Tse berteriak. Lili membenturkan lagi.

Nyonya Tse menggapai-gapai. Lili membenturkan lagi.

Nyonya Tse menyebut nama Lili. Lili membenturkan lagi.

Nyonya Tse memanggil Ming Lin. Lili membenturkan kepala itu lagi.

Nyonya Tse terkulai pingsan, Ming Lin ambruk, Lili terduduk di lantai, darah tercecer di mana-mana.

*****

Namaku Duris Prismawati, Riris Sirius adalah nama penaku. Aku lahir di Blitar, 10 Oktober. Aku bekerja sebagai perawat di Taiwan selama 5,5 tahun. 

Sejak Oktober tahun lalu aku kembali ke Indonesia dan memulai jualan online. Cerita "Kaki Pengganti" adalah sebagian kecil dari cerita hidupku selama bekerja di Taiwan. Aku berharap dengan cerita ini, aku bisa selalu ingat untuk senantiasa bersabar dan bersyukur atas apa-apa yang ada dalam kehidupan di dunia ini. Award yang aku terima untuk ceritaku ini membuatku lebih percaya diri dan menjadi penyemangat untuk terus belajar. Bagiku menulis adalah kegiatan yang menyenangkan.

瀏覽次數:99+

延伸閱讀

「獨立評論@天下」提醒您:
1.本欄位提供網路意見交流平台,專欄反映作者意見,不代表本社立場
2.發言時彼此尊重,若涉及個人隱私、人身攻擊、族群歧視等狀況,本站將移除留言。
3.轉載文圖請註明出處;一文多貼將隱藏資訊;廣告垃圾留言一律移除。
4.本留言板所有言論不代表天下雜誌立場。